Waspadai Diare pada Balita

0
125

Kejadian diare pada balita merupakan salah satu penyakit infeksi yang umum terjadi pada anak dan balita di Indonesia. Hal ini dikarenakan morbiditas (kondisi sakit) dan mortalitasnya (kematian) yang masih tinggi. Sejalan dengan kondisi nasional, Badan kesehatan dunia (WHO) juga menyatakan bahwa diare adalah salah satu dari 4 penyebab utama kematian pada post neonatal (anak berusia 29 hari – 11 bulan) hingga 5 tahun pertama kehidupan. Kematian akibat diare yang tinggi ini salah satunya disebabkan oleh penanganan yang tidak tepat baik di rumah maupun di sarana kesehatan. Oleh kerena itu, informasi seputar diare perlu diketahui sedini mungkin oleh para orang tua dan pengasuh balita. Yuk simak informasi di bawah ini terkait 3 fakta tentang penyakit diare yang sering dialami oleh balita :

Illustrasi diare pada balita


1. Gambaran Umum Diare yang terjadi pada Balita

Berdasarkan hasil Survei Demografi dan Kesehatan Indonesia (SDKI) pada tahun 2017 Angka Kematian Neonatal (anak usia 0-28 hari) sebesar 15 per 1.000 kelahiran hidup, Angka Kematian Bayi 24 per 1000 kelahiran hidup dan Angka Kematian Balita 32 per 1.000 kelahiran hidup. Lebih lanjut, proporsi penyebab dari kematian post neonatal (anak usia 29 hari – 11 bulan) di Indonesia pada tahun 2019 sebagian besar disebabkan oleh Pnemunoia sebanyak 979 kematian dan Diare sebanyak 746 kematian. Sedangkan, proporsi penyebab kematian kelompok anak balita (12-59 bulan) di Indonesia terbanyak disebabkan oleh diare sebanyak 314 kematian.

Selain angka kematian pada bayi dan balita, keseriusan permasalahan diare pada anak digambarkan oleh data prevalensi penyakit diare. Berdasarkan RISKESDAS (Riset Kesehatan Dasar) 2018 kelompok umur dengan prevalensi diare tertinggi adalah kelompuk umur 1-4 tahun sebanyak 11.5%  dan pada bayi sebanyak 9% (berdasarkan diagnosis tenaga kesehatan).  Di sisi lain, data terkait cakupan pelayanan penderita diare pada semua umur mencapai 61.7% sedangkan pada balita sebesar 40%. Salah satu untuk mengatasi diare berdasarkan program pemerintah adalah penggunaan oralit dan zink, secara nasional penggunaan oralit pada balita mencapai 94.5% dan cakupan pemberian zink pada balita mencapai 94.7% dengan target 100% dari semua kasus diare.


2. Pengetahuan Orang Tua dan Pengasuh

Berdasarkan penelitian Putri (2019) tentang faktor yang berpengaruh pada kejadian diare bayi dan balita di wilayah kerja puskesmas Aceh Besar menunjukkan hasil bahwa adanya hubungan antara pengetahun orang tua khususnya ibu dengan kejadian diare. Sejalan dengan penelitian tersebut, penelitian lainnya yaitu Yuvrista (2019) menunjukkan hasil secara statistik menunjukkan hubungan antara pengetahuan ibu tentang phbs (perilaku hidup bersih dan sehat) dengan kejadian diare pada anak balita di Desa Jubelan, Kecamatan Sumowono, Kabupaten Semarang. Penting bagi orang tua untuk mengetahui panduan penanganan diare pada balita yang meliputi tanda-tanda, penyebab, pengobatan dan pencegahannya.

Pengetahuan Orang Tua dan Pengasuh tentang Diare adalah faktor penting dalam pencegahan dan pengobatan diare pada anak balita

3. Faktor Risiko Lainnya

Kejadian diare pada balita merupakan kejadian/penyakit yang disebabkan oleh multifaktor risiko antara lain faktor higiene dan sanitasi lingkungan (penyediaan air bersih, ketersediaan jamban sehat, dan tempat pembuangan sampah, faktor perilaku (pertolongan pertama ibu, pemberian asi ekslusif, penggunaan botol susu, kebiasaan cuci tangan, penggunaan jamban dan konsumsi air minum tercemar), faktor genetik (daya tahan tubu), dan faktor pelayanan kesehatan.

Pertama, penelitan Rahmawati (2019) di Puskesmas Juntinyuat menggambarkan hasil balita yang tidak diberikan ASI ekslusif sebanyak 62.2% mengalami diare. Penelitian yang sama menggambarkan adanya keterkaitan antara status gizi dan kejadian diare (balita yang memiliki status gizi kurang/buruk sebanyak 71.4% mengalami diare). Selanjutnya, masih terkait faktor perilaku, penelitian Devita (2013) di salah satu ruang anak rumah sakit ‘x’ menggambarkan hasil adanya keterkaitan antara personal higiene ibu yang buruk akan meningkatkan kejadian diare balita.

Kedua, Penelitian Melvani (2018) menggambarkan hasil kondisi higiene sanitasi makanan dan minuman yang buruk berkaitan dengan kejadian diare pada anak balita (Sebanyak 95.2% balita yang mengalami diare memiliki higiene sanitasi makanan dan minuman buruk).

Sumber :

  • Kementerian Kesehatan.  Riset Kesehatan Dasar (RISKESDAS) 2018. Jakarta : Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. (2018).
  • Kementerian Kesehatan. Profil Kesehatan Indonesia Tahun 2019. Jakarta: Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. (2020).
  • Maharani D, W.S, Yuswiana MA. Personal Hygiene Ibu Berhubungan dengan Kejadian Diare Balita di Ruang Anak. (2013).
  • Melvani, P.R., Zulkifli,H. & Faizal, M. Analisis Faktor yang Berhubungan Dengan Kejadian Diare Balita di Kelurahan Karyajaya Kota Palembang. Jurnal Jumantik Vol.4 No.1, 57-68 (2018).
  • Putri Eka, O.H. Hubungan Faktor Ibu dengan Kejadian Diare Pada Bayi dan Balita di Wilayah Kerja Puskesmas Aceh Besar. (2019)
  • Rahmawati, Ade. Pemberian Asi Ekslusif dan Status Gizi Serta Hubungannya Terhadap Kejadian Diare Balita di Wilayah Kerja Puskesmas Juntinyuat. Gema Wiralodra Vol 10, 105-114 (2019).
  • Yuvrista, Y. Hubungan Pengetahuan Ibu Tentang PHBS dengan Kejadian Diare Balita di Desa Jubelan Tahun 2018. Skripsi Universitas Ngudi Waluya. (2018).

Tinggalkan Komentar di sini