Penyebab Diare pada Balita

0
107

Diare merupakan salah satu gangguan perut yang sering dialami oleh anak, terutama bayi dan balita. Penanganan diare yang tepat pada balita baik di rumah maupun di sarana kesehatan akan menekan tingkat kesakitan dan kematian diare pada anak. Oleh kerenanya, informasi seputar jenis dan penyebab diare pada balita perlu diketahui sedini mungkin oleh para orang tua dan pengasuh balita.

Kenali Penyebab Diare Pada Balita

Diare atau gastroenteritis akut merupakan kondisi Buang Air Besar (BAB) dalam bentuk lembek atau cair, bahkan bisa berupa air saja dan frekuensinya tiga kali atau lebih sehari yang berlangsung selama dua hari atau lebih. Penyebab langsung dari diare pada balita secara klini dikelompokkan dalam 6 golongan besar yaitu infeksi (disebabkan oleh bakteri, virus, atau parasit), malabsorpsi (gangguan penyerapan salah satu atau beberapa zat nutrisi di usus halus), alergi, keracunan, immonodefisiensi (gangguan atau melemahnya sistem imum untuk melawan penyakit dan infeksi) dan sebab-sebab lainnya. Fakta di lapangan dan secara klinis sering ditemukan diare yang disebabkan oleh infeksi dan keracunan. Biasanya kuman penyebab diare menyebar melalui makanan atau minuman yang tercemar atau kontak langsung dengan tinja penderita (feces oral). Siklus penyebaran penyakit diare dapat digambarkan melalui 5 perantara (5F) berikut ini :

  • Feces atau tinja
  • Flies atau lalat
  • Food atau makanan
  • Fomites atau peralatan makanan
  • Finger atau tangan (jari tangan)

Link download Panduan Sosialisasi Tatalaksana Diare Pada Balita Tahun 2011

Kenali Jenis dan Gejala Diare Pada Balita

Berdasarkan lama berlangsungnya, terdapat 2 jenis diare yaitu diare akut, diare persisten/kronis. Diare akut adalah diare yang berlangsung kurang dari 14 hari, sementara diare persisten atau kronis adalah diare yang berlangsung lebih dari 14 hari.

Gejala anak atau balita diare adalah mulai buang air besar lebih dari tiga kali dalam sehari dengan bentuk cair atau lembek, gelisah, nafsu menyusui atau makan berkurang, kadang ada muntah & demam, serta nyeri perut. Diare pada balita seringkali menyebabkan dehidrasi karena kehilangan cairan tubuh karena muntah dan diare. Kondisi dehidrasi yang dialami oleh balita yang diare memiliki tingkatan tersesendiri mulai dari ringan, sedang hingga berat.

 

Klasifikasi Derajat Dehidrasi BerdasarkanTanda-Tanda yang Dialami

Sumber : Buku Saku Lintas Diare Depkes Kesehatan RI

Orang tua dapat melihat derajat dehidrasi balitanya melalui pemantauan keadaan umum, kondisi mata, keinginan untuk minum, dan turgor kulit (derajat elastisitas kulit). Sebagai contoh, berdasarkan gambar 1 dapat kita lihat jika balita memiliki dua tanda atau lebih dari 4 kondisi berikut : Pertama, secara keadaan umum baik (sadar); Kedua, kondisi mata tidak cekung; Ketiga, tidak terlihat ada rasa haus; dan Keempat, elastisitas kulita jika ditarik kembali dengan segera artinya termasuk dalam jenis diare tanpa dehidrasi. Mengetahui derajat dehidrasi (ringan/sedang/berat) pada balita akan menjadi dasar pemberian terapi/pengobatan yang akan diberikan oleh tenaga kesehatan.

Kenali Pencegahan Diare Pada Balita

Diare dapat dicegah melalui pembiasaan perilaku dan menjaga higiene makanan, lingkungan dan sanitasi. Berikut di bawah ini adalah beberapa pencegahan diare yang bisa orang tua lakukan.

  1. Berikan ASI atau ASI Ekslusif untuk bayi di bawah 6 bulan. Perlu diketahui bahwa ASI bukan penyebab diare. ASI justru mencegah diare dan meningkatkan sistim imunitas tubuh.
  2. Mencuci tangan dengan sabun dan air mengalir di lima waktu penting : pertama pada waktu sebelum/sesudah makan; kedua pada waktu sebelum/sesudah menyiapkan makanan; ketiga pada waktu setelah buang air besar; keempat pada waktu setelah menceboki bayi/anak; kelima pada waktu sebelum memegang bayi dan menyusui.
  3. Mencuci dan melalukan sterilisasi alat makan/botol susu/ pompa asi atau mainan yang biasa dimasukkan keadalam mulut balita. Fakta di lapangan membuktikan, penggunaan botol susu dapat meningkatkan risiko balita terkena diare. Hal ini dikarenakan proses pembersihan dan sterisasil yang kurang baik didukung dengan kualitas air dibeberapa wilayah indonesia juga sudah terkontaminasi kuman-kuman penyakit seperti bakteri E. Coli.
  4. Melakukan vaksi rotavirus bagi bayi dengan usia kurang dari 6 bulan. Jadwal pemberian vaksin rotavirus berdasarkan rekomendasi IDAI dilakukan pada usia 2 bulan (dosis I), 4 bulan (dosis II), dan 6 bulan (dosis III).
  5. Meminum air yang sehat atau telah diolah, seperti direbus.
  6. Menyimpan makanan pada suhu yang sesuai dan ditutup dengan baik untuk menghindari kontaminasi oleh serangga pembawa bakteri seperti lalat.
  7. Melakukan perilaku buah air besar dan buang air kecil yang benar, dilakukan pada tempatnya dianjurkan menggunakan jamban dengan tangki septik (septic tank).
  8. Mengelola sampa dengan baik (tertutup rapat), agar makanan tidak tercemar oleh serangga pembawa bakteri, seperti lalat, kecoa, dan kutu.

Sumber :

  1. Ardinasari, Eiyata. Buku Pintar Mencegah dan Mengobati Penyakit Bayi dan Anak. Jakarta : Penerbit Bestari. (2016).
  2. Departemen Kesehatan. Buku Saku Petugas Kesehatan Lintas Diare. Jakarta: Direktorat Jenderal Pengendalian dan Penyehatan Lingkungan. Departemen Kesehatan RI. (2011)
  3. Kementerian Kesehatan. Panduan Sosialisasi Tatalaksana Diare Balita. Jakarta: Direktorat Jenderal Pengendalian dan Penyehatan Lingkungan. Kementerian Kesehatan RI. (2011)

Tinggalkan Komentar di sini