Waspada Gangguan Pendengaran yang sering terjadi

0
63

Gangguan pendengaran adalah gangguan yang terjadi ketika seseorang kehlangan kemampuan untuk mendengar secara bertahap. Berdasarkan bagiaan telinga yang terpengaruh, gangguan pendengaran dapat dibedakan menjadi tiga jenis, yaitu:

  • Gangguan pendengaran sensorineural. Kondisi ini terjaid ketika sel-sel pada bagian dalam telinga atau saraf auditori rusak. Hal ini terjadi secara alami akibat proses penuaan arau setelag cedera.
  • Gangguan pendengaran konduktif. Kondisi ini disebabkan oleh penyumbatan yang menyebabkan suara tidak dapat melewati telinga luar ke dalam telinga dalam.
  • Gangguan pendengaran campuran. Konidisi ini terjadi jika gangguan pendengaran konduktif dan gangguan pendengaran sensorineural terjadi dala, waktu yang bersamaan.

Gangguan pendengaran merupakan kondisi yang umum terjadi. Kondisi ini biasaniya terjadi pada seseorang yang sudah memasuki lanjut usia. Gangguan pendengaran ini dapat ditangani dengan mengurangi faktor-faktor risikonya.

Diseluruh dunia, 16% gangguan pendengaran pada orang dewasa disebabkan oleh lingkungan pekerjaan yang bising. Gangguan pendengaran akibat bising adalah penurunan pendengaran atau tuli akbiat bising yang  melebihi nilai ambang batas (Mayasari dan Khairunnisa, 2017)

Menurut Profil penyakit tidak menular 2016 milik Kemenkes RI, terdapat prevalensi gangguan pendengaran pada penduduk dengan usia ≥5 tahun  yang tertinggi berada di provinsi Nusa Tenggara Tumur yaitu sebanyak 3,7 %  dan terendah berada di provinsi banten dengan 1,6%. Data ini didapatkan berdasarkan ters konversasi menurut provinsi di Indonesia pada Riskesdas 2013.

Telinga terdiri dari tiga area, yaitu bagian luar, tengah dan dalam. Gelombang suara masuk melalui telinga bagian luar dan menyebabkan getaran pada gendang telinga. Gendang telinga serta tiga tulang kecil pada bagian telinga tengah memperkuat getaran saat gelombang tersebut bergerak ke telinga bagian dalam. Getaran tersebut melewati cairan di rumah siput di bagian dala, telinga (koklea). Di koklea terdapat rambut halus yang terikat pada sel saraf yang kemudian akan menerjemahkan getaran suara menjadi sinyal elektrik yang akan ditransmisikan ke otak. Kemudian otak akan mengubah sinyal tersebut menjadi suara.

Penyebab Gangguan Pendengaran

Kerusakan pada bagian dalam telinga.

Hal ini dapat disebabkan oleh penuaan atau suara keras yang merusak rambut atau sel-sel saraf yang mengirimkan sinyal suara ke otak. Saat sinyal tidak ditransmisikan secara sempurna, kemampuan mendengar seseorang akan menurun. Penderitanya akan merasakan suara meredam pada kondisi yang berisik

  • Penumpukan kotoran telinga secara bertahap.
  • Infeksi telinga, pertumbuhan tulang yang abnormal serta tumor pada telinga bagian liar dan tengah.
  • Gendang telinga yang robek

Kondisi ini terjadi diakibatkan oleh suara yang berisik. Selain itu, perubahan tekanan secara mendadak atau gendan telinga tertutusuk dengan benda yang dapat mempengaruhi kemampuan pendengaran.

Selain itu, terdapat beberapa faktor yang dapat meningkatkan seseorang terkena gangguan pendengaran, diantaranya ayitu:

  • Usia. Degenarasi pada struktur telinga bagian dalam terjadi seiring dengan berjalannya waktu.
  • Suara kencang dapat merusak sel-sel ditelinga bagian dalam. Kerusakan ini dapat terjadi diakibatkan oleh paparan suara kencang dalam jangka waktu panjang atau suara ledakan singkat seperti suara tembakan.
  • Keturunan
  • Suara di tempat kerja. Suara bising di lingkungan pekerjaan seperti pertanian, konstruksi, atau pekerjaan pabrik dapat menyebabkan kerusakan di telinga bagian dalam.
  • Suara rekreasi. Paparan terhadap suara ledakan, seperti saura mesin jet dan suara ledakan senjati api dapat menyebabkan gangguan pendengaran secara permanen. Kegiatan rekreasi lainnya dengan tingkat kebisingan yang sangat tinggi, salah satunya adalah mendengarkan music dengan volume yang terlalu keras.
  • Beberapa pengobatan seperti antibiotic, sildenafil (Viagra) serta obat kemoterapi tertentu dapat menyebabkan kerusakan pada telinga bagian dalam. Konsumsi aspirin dosis tinggi, penghilang rasa sakit, obat anti malaria, atau loop diuretic dapat menyebkan efek sementara di telinga seperti dering di telinga (tinnitus) atau gangguan pendengaran.
  • Beberapa penyakit yang diakibatkan oleh demam tinggi seperti meningitis dapat  merusak koklea.

Gejala Gangguan pendengaran

  • Kesulitan mendengar dan kesulitan mengerti kata-kata yang diucapkan seseorang terutama di tempat yang berisik
  • Kesulitan mendengarkan konsonan
  • Sering meminta lawan bicara untuk mengulangi kata-kata
  • Tidak dapat mendeteksi arah suara.
  • Kesulitan mengikuti pembicaraan

Selain gejala diatas, terdapat gejala lain yang mungkin akan muncul yang memerlukan penanganan yang tepat, yaitu ketika:

  • Anda menyadari kehilangan kemampuan mendengarkan secara tiba-tiba
  • Anda tidak dapat mengerti keseluruhan cerita dalam pembicaraan
  • Anda merasa suara seperti teredam
  • Anda perlu menaikkan volume saat menonton TV atau mendengarkan music.

Gejala-gejala yang lain mungkin akan muncul. Jika anda memiliki kekhawatiran terhadap suatu gejala, segeralah berkonsultasi ke dokter.

Mendiagnosis Gangguan Pendengaran

 Saat anda berkonsultasi dengan dokter, dokter mungkin akan menanyakan tentang gejala, kapan gejala muncul, dan apakah abru saja mendengar suara yang kencang. Dokter juga akan menanyakan lingkungan tempat tinggal, dan lingkungan tempat kerja untuk menemukan sumber suara yang menyebabkan kehilangan pendengaran. Beberapa tes yang mungkin dilakukan adalah:

  • Pemeriksaaan fisik. Dokter akan melihat ke bagian dalam telinga untk menemukan penyebabnya , seperti infeksi  atau kotoran telinga. Dokter juga akan memerika penyebab structural pada masalah pendengaran.
  • Tes skrining. Dokter akan menggunakan pemeriksaan dengan metode berbisik. Anda akan diminta untuk menutupi salah satu telinga untuk menguji kemampuan mendengar.
  • Pemeriksaaan berbasis aplikasi pada ponsel untuk melakukan tes skrining sendiri
  • Tes garpu tala untuk mendeteksi gangguan pendengaran, kemudian saraf atau bagian lain pada telinga yang rusak. Pemeriksaan ini mungkin akan megungkap di mana gangguan pendengaran terjadi.
  • Tes Audiometri dengan menggunakan earphones atau headphones untuk mendengarkan rangkaian suara dengan nada yang berbeda.

Pengobatan Gangguan Pendengaran

  • Menyingkirkan penyumbatan kotoran telinga
  • Prosedur operasi untuk mengatasi kelainan gendang telinga atau tulang pendengaran (ossiceles).
  • Alat bantu dengar dapat digunakan jika telinga bagian dalam rusak.
  • Implan koklea bisa menjadi solusi ketika gangguan pendengaran yang dialami sudah semakin parah dan tidak terbantu dengan alat bantu dengar.

Selain itu, pengobatan yang lain juga dapat dilakukan dirumash untuk mengatasi gangguan pendengaran, yaitu diantaranya:

  • Selama pembicaraan usahan untuk menghadap lawan bicara, matikan suara yang dapat mengganggu pembicaraan
  • Beri tahu orang disekitar anda tentang kondisi gangguan pendengaran yang anda alami.
  • Jika tidak mendengar kata-kata dengan helas, minta lawan bicara untuk mengulanginya
  • Gunakan alat  bantu dengar
  • Cari tempat yang jauh dari kebisingan.

Mencegah Gangguan Pendengaran.

  •  Lindungi telinga dari suara dengan intensitas dan duarasi yang lama. Penutup telinga plastik yang diisi dengan gliserin ketika anda bekerja di lingkungan yang bising. Ketika menonton konser cobalah menjauh sejauh meungkin setiap 15 menit. Beristirahat selama 18 jam untuk pemulihan setelah mendengar suara keras
  • Lakukan pemeriksaan telinga terutama bagi seseorang yang bekerja di lingkungan yang bising
  • Hindari risiko rekresional dengan menghindari mengendarai mobil salju, berburu, atau menonton konser rock, karena dapat menyebabkan kerusakan pada telinga seiring berjalannya waktu. Jangan mendengarkan music dengan lebih dari 60% volume maksimal, tidak disarankan untuk menggunakan headphone atau earphone lebih dari satu jam.

 Referensi:

Kementerian Kesehatan RI, Direktorat Jenderal Penyakit Tidak Menular. 2017. Profil Penyakit Tidak Menular Tahun 2016. Jakarta: Kementerian Kesehatan RI.

Mayasari, Diana., dan Khairunnisa, Rifda. 2017. Pencegahan Noise Induced Hearing Loss pada Pekerja Akibat Kebisingan. J Agromed Unila. Vol (4) 2: 354-360.

Tinggalkan Komentar di sini