Difteri, Penyakit Akut yang Sangat Menular dan Mematikan

0
43

Difteri merupakan penyakit yang disebebkan oleh infeksi bakteri Corynebacterium diphtheria. Bakteri inii kemudian menyerang tenggorokan dan sistem pernapan atas. Selain itu, bakteri ini juga menghasilkan racun yang dapat mempengaruhi organ-organ yang lain. Hal ini mengakibatkan selaput jaringan yang mati menumpuk di tenggorokan dan amandel, membuat penderitanya akan kesulitan bernapas dan menelan. Sistem jantung dan saraf juga dapat terganggu karena kondisi ini, itulah sebabnya difteri dapat menyebabkan kematian.

World Health Organization (WHO), mencatat pada tahun 2016 ada 7.097 kasus difteri di seluruh dunia, 342 kasus diantarnya berasal dari Indonesia. Wabah difteri ini telah menjadi kejadian luar biasa (KLB) di Indonesia sejak tahun 2011. Tercatat ada 3.353 kasus difteri di Indonesia dari tahun 2011 sampai dengan tahun 2016. Sehingga, menyebabkan Indonesia berada di peringkat ke 2 setelah india dengan jumlah kasus terbanyak di dunia. Dari 3.353 orang yang mengidap penyakit difteri tersebut, 110 diantanya meninggal dunia. Diketahui pula 90% orang yang terinfeksi tidak melakukan imunisasi difteri yang lengkap.

Demi menanggulangi penyakit difteri yang mewabah di Indonesia, pemerintah kemudian menyelenggarakan ORI (Outbreak Response Immunization) atau disebut sebagai imunisasi penanganan kejadian luar baisa di daerah yang terkena kasus difteri.

Penyakit ini dapat menjangkiti siapa saja termasuk para pekerja. Pekerja yang berisiko terkenan penyakit ini adalah:

  • Pekerja di layanan kesehatan yang bertugas menangani orang yang sakit, sehingga berisiko untuk tertular penyakit difteri
  • Pekerja layanan publik, antara lain pekera perbankan, pekerja perkantoran, pedagang, guru, dan juga pekerja lainnya yang  pekerjaan sehari-harinya berhadapan dengan banyak orang.
  • Pekerja yang terpajan debu atau bahan kimia yang dapat menyebabkan berkurangnya pertahanan jalan napas sehingga dapat dengan mudah terinfeksi.

Penyebab Penyakit Difteri

Penyebab dari penyakit difteri ini adalah bakteri, yaitu Corynebacterium diptheriae. Bakteri ini dapat menyebarkan penyakit melalui partikel udara, benda pribadi, serra peralatan rumah tangga yang terkontaminasi. Penyakit ini dapat menular melalui:

  • Partikel udara. Jika seseorang menghirup partikel udara dari batuk atau bersin seseorang yang terinfeksi. Cara ini adalah yang paling efektif untuk menularkan penyakit, terutama saat berada di tempat ramai
  • Barang yang terkontaminasi oleh bakteri. Contohnya adalah jika seseorang memegang tisu bekas orang yang terinfeksi, atau minum dari gelas yang telah dipakai oleh yang terinfeksi, atau kontak sejenisnya dengan benda-benda yang membawa bakteri.
  • Luka yang terinfeksi. Menyentuk luka yang terinfeksi bakteri dapat menularkan bakteri penyebab difteri.

Selain itu, terdapat beberapa faktor yang memiliki risiko terkena penyakit ini, yaitu:

  • Tempat tinggal yang ramai
  • Tidak melakukan vaksinasi terbaru
  • Memiliki gangguan pada sistem imun,seperti AIDS
  • Tinggal di kondisi yang tidak bersih atau ramai

Kondisi ini banyak terjadi di Negara-negara berkembang yang masih kurang kesadaran dalam melakukan imunisasi.

Gejala Penyakit Difteri

Pada umumnya, butuh waktu 2 hingga 3 hari sampai gejala difteri muncul setelah bakteri masuk kedalam tubuh. Namun, beberpa kasus tidak memiliki gejala apapun. Secara umum penyakit difteri dapat dikenali dengan beberapa gejala seperti:

  • Sakit kepala
  • Demam dan menggigil
  • Sakit pada tenggorokan saat menelan
  • Kesulitan bernapas
  • Tubuh terasa lemas
  • Tenggorokan ditutupi oleh lapisan selaput tebal berwarna abu-abu.
  • Kelenjar pada leher membengkak
  • Batuk yang keras
  • Bperubahan pada penglihatan
  • Bicara yang melantur
  • Tanda-tanda shock, misalnya kulit yang pucat dan dingin, berkeringat dan jantung berdebar cepat.

Difteri Mematikan

Saat ini penyakit ini sudah dapat ditangani, namun perlu diketahui bahwa penyakit ini disebut sebagai penyakit mematikan. Alasanya adalah:

  • Bakteri Corynebacterium diphtheria mudah menular melalui tetesan bersin, batuk, atau droplet orang yang terinfeksi yang ad adi udara atau dibenda.
  • Difteri dapat menimbulkan komplikasi serius. Hal ini karena disebabkan karena salah satu gejala difteri adalahmunculnya selaput berwarna putih keabu-abuan  yang dapat berdarah jika dikelupas. Selain itu, difteri juga menyebabkan infeksi nesofaring yang dapat menimbulkan kesulitan bernapas sehingga menyebabkan kematian. Bakteri difteri juga dapat membunuh sel-sel sehat dalam tenggorak serta dapat menyebabkan gagal jantung pada penderita yang terinfeksi. Beberapa pengidap juga mengalami pembengakakn otot katup jantung
  • Sulit dicegah hanya dengan gaya hidup sehat, tetapi harus dilakukan imunisasi

Pengobatan Penyakit Difteri

Setelah seseorang di diagnosis menderita penyakit difteri, maka dokter akan segaera menangani penyakit ini. karena difteri meruapkan kondisi yang serius. Berikut ini merupakan langkah-langkah yang mungkin di lakukan tenaga medis, diantaranya adalah:

  • Antitoksin. Obat ini diberikan untuk melawan racun yang dihasilkan oleh bakteri Corynebacterium diphtheria. Sebelumnya dokter akan memastikan bahwa penderita tidak mengidap alergi pada antitoksin
  • Antibiotik. Setelah memberikan antitoksin, selanjutnya dokter akan memberikan antibiotic, seperti penicillin, dan erythromycin yang dapat mengatasi indeksi.
  • Perawatan pencegahan. Dokter akan memberikan dosis pendorong vaksin bakteri, dan dokter juga akan merawat pembawa difteri, sehingga bersih dari bakteri.

Pencegahan Penyakit Difteri

Vaksin

Awalnya, difteri merupakan penyakit umum pada anak-anak. Namun, saat ini difteri tidak hanya bisa diobati, namun bisa dicegah dengan vaksin. WHO mengatakan bahwa vaksinasi telah mengurangi anaka kematian dan morbiditas akibat difteri secara dramatis. Meskipun demikian, difteri masih menjadi masalah besar kesehatan anak di Negara-negara dengan angka environmental Performance Index (EPI) yang rendah. Vaksin ini menjadi toksid bakteri. Yaitu, toksin yang efek racunnya telah dinonaktifkan. Vaksin ini biasanya di padukan dengan vaksin tetanus dan pertusis.

Bagi anak-anak, vaksin tersebut dinamakan DPT (diphtheria, tetanus, dan pertussis). Sedangkan untuk orang dewasa  biasanya dicampur dengan toksoid tetanus yang konsentrasinya lebih rendah.

Vaksin diberikan kepada anak-anak pada usia 2 bulan. 4 bulan. 6 bulan, 15 sampai 18 bulan, serta 4 sampai 6 tahun. Vaksin ini akan menimbulkan beberapa efek samping seperti demam, rewel, kantuk, dan kebas.  

Suntikan pendorong

Setelah rangkaian imunisasi pada saat anak-anak, selanjutnya diperlukan suntikan pendorong vaksin difteri. Hal ini dilakukan untuk mempertahankan imunitas tubuh, karena difteri akan menghilangkan imunitas tubuh.

Anak-anak yang telah melewati vaksin sebelum 7 tahun maka harus mendapatkan suntukan pendorong pada usia 11 hingga 12 tahun, selanjutnya suntukan pendorong direkomendasikan dilakukan apda 10 tahun berikutnya, dan diulang setiap 10 tahun sekali.

Suntikan difteri juga penting bagi seseorang yang pergi ke tempat yang terdapat penyakit difteri. Suntikan pendorong ini akan di kombinasikan dengan pendorong tetanus yaitu vaksin tetanus difteri (Td) dan diinjeksikan pada bagian lengan atau kaki.

Tdap merupakan gabungan dari vaksin tetanus, difteri, dan acellular pertussis (batuk rejan). Vaksin ini merupakan vaksin alternative satu kali ketika usia remaja 11 hingga 18 tahun. Selain itu juga diberikan kepada orang dewasa yang sebelumnya tidak mendapatkan suntikan pendorong. Vaksin ini juga direkomendasikan untuk wanita hamil.

Referensi:

Kementerian Kesehatan RI. 2016.

World Health Organization (WHO). 2016.

Tinggalkan Komentar di sini