Waspada Penyakit Demam Berdarah Dengue (DBD)

0
135

Demam berdarah dengue atau biasa disebut DBD adalah sebuah penyakit menular akibat virus yang di bawa oleh nyamuk Aedes aegypti. Dahulu DBD disebut sebagai penyakit “Break-bone” karena dapat mengakibatkan rasa nyeri sendi dan otot yang membuat tulang seakan retak. Pada tahap awal, DBD akan menyebabkan demam tinggi, ruam atu bintik merah, serta nyeri otot sendi. Sedangkan, DBD parah yang juga dikenal sebagai dengue hemorrhagic fever (demam dengue) yang dapat menyebabkan perdarahan serius, penurunan tekanan darah secara tiba-tiba (shock) bahkan kematian.

Penyakit DBD biasaya ditemukan di daerah tropis dan subtropis. Indonesia yang memiliki iklim tropis yang cocok bagi hewan pembawa penyakit, termasuk penyakit DBD. Di Indonesia DBD sering terjadi dan menjadi penyakit endemic Indonesia.

World Health Organization (WHO) menyatakan bahwa Asia Fasifik menyumbangkan 75% dari keseluruhan kasus DBD di dunia pada tahun 2004 hingga 2010, sedangkan di Indonesia dinyatakan sebagai Negara ke-2 yang memiliki kasus DBD terbanyakk diantara 30 negara di wilayah endemis.

Menurut KEMENKES R1 pada tahun 2017 saja terdapat 68.407 kasus DBD. Angka tersebut mengalami penurunan dari tahun sebelumnya 2016 yang memiliki 204.171 kasus. 3 Provinsi di pulau jawa menempati posisi tertinggi dengan Jumlah kasus 10.016 kasus di Jawa Bara, di jawa timur sebesar 7..838 kasus, dan Jawa Tengah dengan 7.400 kasus. Sedangkan Provinsi Maluku Utara menempati posisi terendah dengan jumlah 37 kasus.

Kasus kematian akibat penyakit DBD di Indonesia pada tahun 2017 berjumlah 493 kasus kematian. Jika dibandingkan dengan tahun 2016 dengan kasus kematian sebesar 1.598 kasus, kasus ini mengalami penurusan yang drastic.

Penyebab Penyakit DBD

Penyakit DBD disebabkan oleh virus dengue yang disebarkan melalui gigitan nyamuk Aedes aegypti atau Aedes albopictus. Gigitan nyamuk ini biasanya terjadi di leher dan pergelangan kaki. Virus DBD ini memiliki 4 jenis, yaitu diantarnya adalah DEN-1, DEN-2, DEN-3, serta DEN-4. Setelah nyamuk yang membawa virus itu menggigit manusia, maka virus tersebut akan masuk dan mengalir dalam darah sebelum kemudian menginfeksi sel-sel kulit terdekat.

Virus dengue juga dapat menginfeksi sel-sel Langerhans, yaitu sel kekebalan khusus yang ada di lapisan kulit. Sel Lengehans ini berperan untuk membatasi penyebaran infeksi secara terus menerus. Namun, sel yang telah terinfeksi oleh virus itu pergi ke kelenjar getah bening dan akhirnya menginfeksi lebih banyak sel sehat. Penyebaran virus ini menghasilkan viremia, yang merupakan tingkat tinggi dari virus dalam aliran darah.

Faktor-faktor yang dapat meningkatkan resiko terjangkit penyakit DBD adalah sebagai berikut:

  • Jika tinggal atau beperigan ke daerah yang beriklim tropis seperti Asia Tenggara, bagian barat kepulauan Pasifik, amerika latin, dan karibia.
  • Punya riwayat terkena demam berdarah. Jika seseorang yang pernah terjangkit DBD maka jika terinfeksi lagi akan mengalami hal yang serius.

Gejala Penyakit DBD.

Penyakit DBD memiliki 3 jenis, yaitu Demam Dengue, Demam Berdarah Dengue, serta dengue shock. Masing-masing memiliki gejala yang berbeda-berda. Yaitu sebagai berikut:

1. Demam Dengue

  • Demam tinggi (> 40°C) selama 4-7 hari setelah di gigit nyamuk.
  • Sakit kepala parah
  • Nyeri di bagian belakang mata
  • Nyeri otot dan sendi yang parah
  • Mual dan muntah
  • Ruam  diseluruh tubuh selama 3-4 hari setelah demam, dan akan berkurang 1-2 haru.

2. Demam Berdarah Dengue (Dengue hemorrhagic fever).

  • Semua gejela dari demam dengue
  • Sakit perut parah
  • Sulit bernapas setelah demam mereda
  • Kerusakan pada pembuluh darah dan getah bening
  • Perdarahan dari gusi, hidung, atau di bawah kulit, sehingga menyebabkan memar berwarna keunguan

3. Dengue Shock Syndrome

  • Gejala pada demam dengue dan demam berdarah dengue
  • Kebocoran di luar pembuluh darah
  • Perdarahan parah
  • Shock (tekanan darah sangat tinggi)

Kemungkinan terjadi gejala-gejala yang tidak disebutkan diatas. Bila anda memiliki kekhawatiran akan sebuah gejala, maka segeralah periksakan ke dokter.

Fase Penyakit DBD

Fase Demam

Setelah infeksi terjadi, fase pertama akan muncul yang ditandai dengan demam tinggi secara tiba-tiba dan bisa mencapai lebih dari 40° celcius. Demam ini dapat berlangsung selama 2-7 hari. Selain itu, akan muncul gejala lain seperti nyeri otot, nyeri sendi dan sakit kepala. Apabila demam bertahan lebih dari seminggu maka kemungkinan itu bukanlah demam berdarah.

Fase Kritis

Setelah melewati fase demam. Kemudian, pasien DBD akan mengalami fase kritis. Biasanya dalam memasuki fase ini kebanyakan fasien akan terkecoh, karena pada tahap ini demam sudah turun drastis dan dianggap sembuh. Sehingga biasanya pasien akan mulai beraktivitas seperti biasanya. Padahal, pada tahap ini pasien harus tetap menjalani perawatan dan pengobatan dari dokter. jika tidak, maka trombosit darah akan semakin sedikit. Hal ini dapat menyebabkan perdarahan yang tidak disadari. Fase ini harus segera mendapatkanperawatan, karena jika tidak dapat berakibat fatal.

Fase Penyembuhan

Saat fase kritis sudah dilewati dengan penanganan yang tepat, pasien DBD akan mengalami demam kembali. Namun, tidak perlu khawatir karena saat demam kembali naik, trombosit juga akan perlahan naik. Cairan tubuh juga akan kembali normal. Penderita DBD dapat dikatakan sembuh apabila trimbosit darah putih kembali normal setelah menjelani tes.

Pengobatan Penyakit DBD

Untuk mengobati penyakit DBD tidak ada penanganan yang spesifik, kebanyakan pasien akan pulih dalam 2 minggu. Hal yang paling penting adalah untuk menangani gejala-gejala DBD sebelum terjadi komplikasi. Dokter juga akan merekomendasikan:

  • Mengkonsumsi obat penurun demam seperti paracetamol. Hindari obat  penghilang rasa sakit yang dapat meningkatkan komplikasi pendarahan, seperti ibuprofen, aspirin dan naproxen sodium.
  • Istirahat yang banyak ditempat tidur agar lebih cepat pulih.
  • Minum banyak cairan tidak hanya air mineral atau infus saja, tetapi juga dapat berupa makanan berkuah, buah, atau jus. Hal ini dimaksudkan agar demam turus serta mencegah terjadinya dehidrasi.

Pencegahan DBD

  • Anak usia 9-16 tahun dianjurkan untuk divaksinasi dengue sebanyak 3 kali dengan jarak 6 bulan
  • Memberantas sarang nyamuk yang dilakukan dengan dua kali pengasapan insektisida (fogging) dalam jarak 1 minggu.
  • Menguras tempat penampungan air, seperti bak mandi minimal seminggu 1 kali.
  • Menutup rapat tempat penampungan air
  • Melakukan daur ulang barang yang berpotensi menajdi tempat perkembangan nyamuk aedes aegypti
  • Mengatur cahaya yang cukup dalam rumah
  • Memasang kawat anti nyamuk di ventilasi rumah
  • Menaburkan bubuk lavarsida (abate) pada penampungan air yang sulit dikuras.
  • Menggunakan kelambu saat tidur
  • Menanam tumbuhan yang dapat mengusi nyamuk
  • Mengehentikan kebiasan menggantung pakaian
  • Menghindari wilayah daerah yang rentan terjadi infeksi
  • Mengenakan pakaian yang longgar
  • Menggunakan krim anti nyamuk yang mengandung N-diethykmetatouluamide (DEET), namun jangan digunakan pada anak di bawah 2 tahun.
  • Gunakan pakaian tertutup untuk menghindari gigitan nyamuk

Referensi:

Infodatin. 2018. Situasi Penyakit Demam Berdarah di Indonesia pada tahun 2017. Kementerian Kesehatan Republik Indonesia.

World Healt Organization (WHO). 2010

Tinggalkan Komentar di sini