Satu Bungkus Rokok, Berapa Porsi Protein Anak yang Hilang? Menempatkan Ayah dalam Pencegahan Stunting!
Ketika Gizi Anak Kalah oleh Asap Rokok
Berapa butir telur, potong ikan, atau porsi ayam yang dapat dibeli dengan harga satu bungkus rokok? Jika seorang ayah menghabiskan sebungkus rokok setiap hari, berapa banyak sumber protein yang sebenarnya dapat disediakan oleh ayah untuk anaknya dalam satu bulan? Pertanyaan ini terasa sederhana, tetapi jawabannya menyentuh persoalan besar dalam pencegahan stunting. Di sebuah rumah, seorang ibu mungkin sedang berusaha menyusun menu bergizi dengan uang belanja yang terbatas. Pada saat yang sama, sebagian pendapatan keluarga rutin berubah menjadi asap. Anak bukan hanya kehilangan kesempatan memperoleh makanan yang lebih berkualitas, tetapi juga berisiko menghirup asap rokok di lingkungan tempat ia seharusnya tumbuh sehat.
Survei Status Gizi Indonesia 2024 mencatat prevalensi stunting nasional turun dari 21,5 persen pada 2023 menjadi 19,8 persen pada 2024. Penurunan tersebut patut diapresiasi. Namun, angka itu masih merepresentasikan sekitar 4,4 juta balita di Indonesia mengalami kondisi stunting. Lebih mengkhawatirkan lagi, prevalensi stunting pada kelompok ekonomi terbawah mencapai 29,8 persen, sedangkan pada kelompok ekonomi tertinggi sekitar 12 persen. Dengan kata lain, anak dari keluarga termiskin menghadapi risiko stunting sekitar 2,5 kali lebih besar.
Pada keluarga dengan ruang ekonomi terbatas, setiap rupiah menentukan kualitas makanan anak sehingga konsumsi rokok tidak lagi dapat dipandang semata-mata sebagai pilihan pribadi. Ketika sudah ada ibu hamil atau anak di dalam rumah, keputusan merokok turut menentukan kondisi ekonomi, udara, dan kesehatan keluarga. Indonesia juga menghadapi tingginya konsumsi rokok. Kementerian Kesehatan menyebut jumlah perokok aktif telah melampaui 70 juta orang. Mayoritas perokok adalah laki-laki. Di banyak keluarga, laki-laki juga masih mempunyai pengaruh besar terhadap penggunaan pendapatan dan keputusan belanja rumah tangga.

Grafik 1. Pertumbuhan Jumlah Perokok Dewasa di Indonesia
Dalam sepuluh tahun, jumlah perokok dewasa bertambah 8,8 juta orang. Di balik angka tersebut terdapat anggaran pangan yang menguap dan keluarga yang terus terpapar asap. Kenaikan 14,6 persen ini bukan hanya statistik konsumsi tembakau. Ketika sebagian besar pengguna tembakau adalah laki-laki, angka tersebut juga menggambarkan jutaan ayah dan calon ayah yang keputusan merokoknya dapat mempengaruhi anggaran serta lingkungan tumbuh anak. Pada saat yang sama, muncul istilah fatherless untuk menggambarkan anak yang tumbuh tanpa kehadiran ayah. Namun, fatherless tidak selalu berarti ayah tidak tinggal serumah. Seorang ayah dapat hadir secara fisik, tetapi tidak terlibat dalam pengasuhan, pemilihan makanan, pemantauan pertumbuhan, ataupun keputusan kesehatan anak. Indonesia belum memiliki satu indikator nasional baku yang cukup untuk menyimpulkan peringkat “negara fatherless”. Karena itu, masalah yang lebih tepat disoroti bukan sekadar keberadaan ayah, melainkan kualitas keterlibatannya.
Stunting selama ini terlalu sering dibicarakan seolah-olah hanya menjadi pekerjaan ibu: ibu harus menjaga kehamilan, memberikan ASI, menyiapkan MPASI, membawa anak ke Posyandu, dan memastikan imunisasi. Padahal, ibu tidak dapat membangun lingkungan tumbuh yang sehat seorang diri. Pencegahan stunting membutuhkan ayah yang hadir dalam keputusan ekonomi, pengasuhan, dan perilaku hidup bersih & sehat (PHBS) termasuk keberanian mengendalikan rokok.
Bukan Hanya Asap: Tiga Jalur Rokok Mengancam Pertumbuhan Anak
Rokok menggeser anggaran pangan
Stunting bukan sekadar akibat anak kurang makan. Stunting merupakan gangguan pertumbuhan akibat kekurangan gizi kronis, infeksi berulang, dan lingkungan pengasuhan yang tidak memadai. Meski demikian, kualitas pangan tetap menjadi salah satu pondasinya. Anak membutuhkan makanan beragam, terutama protein hewani, zat besi, seng, vitamin B12, dan zat gizi penting lainnya untuk mendukung pertumbuhan anak yang optimal. Namun, UNICEF mencatat sekitar dua dari lima balita Indonesia belum memperoleh keragaman kelompok pangan minimum. Hanya sekitar 40 persen anak yang menerima pola makan minimum yang dapat diterima untuk mendukung pertumbuhan optimal.
Di sinilah rokok menciptakan biaya kesempatan. Uang yang digunakan untuk membeli rokok tidak dapat digunakan kembali untuk membeli telur, ikan, ayam, tahu, tempe, buah, atau membawa anak mengakses pelayanan kesehatan. BPS berulang kali mencatat rokok kretek filter sebagai salah satu komoditas dengan kontribusi terbesar terhadap garis kemiskinan, sering kali berada tepat setelah beras dan lebih besar daripada kontribusi telur maupun daging ayam. Artinya, persoalannya bukan selalu karena keluarga sama sekali tidak memiliki uang, tetapi juga bagaimana sumber daya yang terbatas diprioritaskan. Mengedukasi ibu tentang menu bergizi tanpa mengajak ayah meninjau belanja rokok ibarat meminta ibu mengisi piring anak sementara sebagian anggaran dapurnya terus dibakar.
Namun, hal ini tidak berarti setiap anak dari ayah perokok pasti mengalami stunting. Stunting mempunyai banyak penyebab. Rokok adalah salah satu faktor yang dapat memperberat risiko melalui berkurangnya anggaran pangan dan layanan kesehatan. Oleh sebab itu, pesan kesehatan harus mengajak perubahan, bukan mempermalukan keluarga.
Asap rokok mengganggu lingkungan tumbuh anak
Kerugian rokok tidak berhenti pada uang yang hilang. Asapnya dapat mencemari rumah, pakaian, rambut, perabot, dan kendaraan keluarga. Anak dapat terpapar sebagai perokok pasif maupun melalui residu asap yang tertinggal pada berbagai permukaan.
Paparan tersebut dapat meningkatkan risiko gangguan pernapasan dan infeksi. Ketika anak sering sakit, nafsu makan dapat menurun, penyerapan serta pemanfaatan zat gizi terganggu, dan energi yang seharusnya digunakan untuk bertumbuh harus dialihkan untuk melawan penyakit. Infeksi berulang dan kekurangan gizi kemudian membentuk lingkaran yang saling memperburuk. Berdasarkan Policy brief Badan Kebijakan Pembangunan Kesehatan yang mengolah data SKI 2023 menyebut balita dengan ayah perokok aktif memiliki peluang stunting sekitar 13 persen lebih tinggi. Balita yang hidup dalam rumah tangga dengan aktivitas merokok di dalam ruangan mempunyai peluang stunting sekitar 16 persen lebih tinggi dibandingkan anak sebayanya. Penelitian terhadap keluarga miskin di Indonesia juga menemukan hubungan antara kebiasaan merokok ayah dan meningkatnya risiko stunting serta malnutrisi berat pada anak. Temuan ini tidak boleh diterjemahkan bahwa merokok merupakan penyebab tunggal. Akan tetapi, konsistensi jalur ekonomi dan kesehatan memperkuat alasan bahwa pengendalian rokok layak ditempatkan dalam strategi pencegahan stunting.
Ayah harus menjadi bagian dari solusi
Peran ayah tidak boleh disederhanakan hanya sebagai pencari nafkah. Ayah perlu ikut memutuskan makanan apa yang dibeli, memastikan rumah bebas asap rokok, mendampingi pemeriksaan kehamilan, membawa anak ke Posyandu, memahami grafik pertumbuhan, mendukung ASI, serta berbagi pekerjaan pengasuhan. Keterlibatan ini juga mengurangi beban ibu. Ibu yang memperoleh dukungan pasangan memiliki kesempatan lebih baik untuk beristirahat, menyusui, menyiapkan makanan, dan mencari pertolongan ketika anak sakit atau pertumbuhannya mulai melambat. Kehadiran ayah dengan demikian tidak hanya bersifat simbolis, tetapi harus terlihat dalam keputusan dan tindakan sehari-hari.
Perubahan tersebut tidak dapat dibebankan kepada ayah seorang diri. Kementerian Kesehatan dan pemerintah daerah perlu mengintegrasikan konseling berhenti merokok dengan program kesehatan ibu-anak dan pencegahan stunting. Puskesmas perlu menanyakan kebiasaan merokok anggota keluarga ketika memeriksa ibu hamil dan balita, kemudian menyediakan akses ke layanan berhenti merokok. Posyandu dapat mengadakan sesi khusus ayah pada sore hari atau akhir pekan. Kader dan PKK dapat mempromosikan rumah bebas asap rokok tanpa mempermalukan keluarga. Tempat kerja dapat membantu pekerja laki-laki berhenti merokok melalui konseling, dukungan kelompok, dan kebijakan kawasan tanpa rokok yang benar-benar diterapkan.
Peran media dan influencer kesehatan juga mempunyai peran penting. Kampanye tidak cukup hanya menampilkan gambar penyakit. Pesan perlu diterjemahkan ke dalam pilihan yang dekat dengan kehidupan keluarga: satu bungkus rokok setara dengan berapa telur, berapa potong ikan, atau berapa porsi makanan anak. Tokoh agama dan komunitas laki-laki dapat memperkuat pesan bahwa melindungi keluarga dari asap adalah bentuk tanggung jawab, bukan kehilangan maskulinitas.
Gambar 1. Kampanye “Ayah Hadir, Anak Bertumbuh” untuk pencegahan stunting.
Sumber : Sumber: Ilustrasi dikembangkan oleh penulis dengan bantuan kecerdasan artifisial, 2026.
Ayah Hadir, Rokok Menyingkir, Anak Bertumbuh
Indonesia tidak akan menuntaskan stunting jika pesan pencegahannya terus diarahkan hanya kepada ibu. Kita tidak dapat meminta ibu menyajikan protein setiap hari tanpa membicarakan ke mana pendapatan keluarga dibelanjakan. Kita juga tidak dapat meminta anak bertumbuh sehat sambil membiarkannya menghirup asap di rumahnya sendiri.
Ajakan ini bukan pengadilan bagi ayah yang merokok. Ketergantungan nikotin merupakan persoalan yang nyata dan berhenti merokok tidak selalu mudah. Ayah membutuhkan informasi, dukungan keluarga, konseling, dan layanan berhenti merokok yang mudah dijangkau. Namun, kesulitan berhenti tidak boleh menjadi alasan untuk membiarkan anak terus menanggung akibatnya.
Perubahan dapat dimulai dari langkah sederhana: tidak merokok di rumah dan kendaraan, mengurangi konsumsi, mencari pertolongan untuk berhenti, serta mengalihkan uang rokok menjadi pangan bergizi. Bayangkan jika setiap ayah memulai gerakan “Satu Hari Tanpa Rokok, Satu Porsi Protein untuk Anak.” Satu hari dapat berkembang menjadi satu minggu, lalu menjadi kebiasaan baru keluarga.
Pada akhirnya, kehadiran ayah tidak diukur dari apakah ia tinggal dalam rumah yang sama. Kehadiran ayah terlihat dari udara yang dijaganya tetap bersih, makanan yang diprioritaskannya, Posyandu yang didatanginya, dan masa depan anak yang dibelanya. Sebelum membeli sebungkus rokok berikutnya, setiap ayah layak mengajukan satu pertanyaan kepada dirinya sendiri: hari ini, apakah yang akan saya bawa pulang ke rumah berupa asap untuk diri sendiri atau satu porsi protein untuk pertumbuhan anak?
#MasyarakatSehatIndonesiaKuat
#LombaKesehatanKomdigi2026
#HUT81RI
Referensi:
1. Al Faizin, R. E., Herlambang, G. D., & Trihono. (2024). Mau menurunkan prevalensi stunting? Pengendalian tembakau jawabannya! Badan Kebijakan Pembangunan Kesehatan, Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. https://www.badankebijakan.kemkes.go.id/repositori/id/eprint/5567/1/06_Ruli_Poster%20Policy%20Brief%20Stunting%20dan%20Tembakau.pdf
2. Badan Kebijakan Pembangunan Kesehatan. (2025, 27 Mei). Capaian SSGI 2024 ungkap tren positif. Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. https://www.badankebijakan.kemkes.go.id/capaian-ssgi-2024-ungkap-tren-positif/
3. Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. (2025, 26 Mei). SSGI 2024: Prevalensi stunting nasional turun menjadi 19,8%. https://www.kemkes.go.id/id/ssgi-2024-prevalensi-stunting-nasional-turun-menjadi-198/
3. Muchlis, N., Yusuf, R. A., Rusydi, A. R., Mahmud, N. U., Hikmah, N., Qanitha, A., & Ahsan, A. (2023). Cigarette smoke exposure and stunting among under-five children in rural and poor families in Indonesia. Environmental Health Insights, 17, 1–11. https://doi.org/10.1177/11786302231185210
4. UNICEF Indonesia. (n.d.). Nutrition: Tackling the “triple burden” of malnutrition in Indonesia. Diakses 22 Agustus 2026, dari https://www.unicef.org/indonesia/nutrition