Faktor Psikososial dan Keluhan Musculoskeletal Pada Pekerja

28

Sejumlah penelitian mengatakan bahwa keluhan musculoskeletal menjadi permasalahan Kesehatan Kerja saat ini.  Keluhan musculoskeletal ini ditanda dengan gejala-gejala seperti nyeri, lemah otot, kelelahan, mati rasa atau kekakuan otot pada bagian-bagian tubuh.  Misalnya nyeri punggung, nyeri pada pergelangan tangan, nyeri pada bagian leher dll. Dampak keluhan yang dirasakan tentunya akan sangat banyak.  Beberapa contoh dampak yang dirasakan adalah semakin minimnya atau berkurangnya output produksi, atau terlambatnya jadwal produksi sampai adanya proses pergantiaan karyawan baru dll.

Beberapa faktor risiko seperti individu dan fisik dipercaya memang berpengaruh terhadap terjadinya keluhan musculoskeletal (MSS).  Seseorang yang semakin tua ada kecenderungan akan mengelami keluhan MSS.  Hal ini diduga karena kekuatan tulang yang menopang tubuh manusia tidak sekuat saat masih muda (Okunribido, 2016).  Faktor lain terkait individu dan fisik misalnya jenis kelamin, Indeks Massa tubuh, aktivitas olahraga, berat beban yang diangkat, durasi kerja dan jenis pekerjaan juga secara ilmiah banyak dikatakan berhubungan dengan MSS ini. Sejumlah peneliti menggunakan kueisioner QEC untuk menilai faktor fisik pada pekerja dengan kaitan keluhan musculoskeletal. QEC hanya salah satu contoh tools yang umumnya digunakan untuk menilai dan mengukur faktor fisik pada pekerja. Namun, sebenarnya di QEC sendiri ada beberapa poin yang menanyakan faktor psikososial seperti stress kerja.

Selama beberapa dekada ini, penelitian para ahli ergonomic mulai berkembang kearah faktor psikososial yang diduga berhubungan dengan keluhan MSS.  Faktor psikososial misalnya stress kerja, kecepatan kerja, pekerjaan yang monoton, siklus kerja / istirahat, tuntutan tugas, dukungan sosial dari kolega dan manajemen dan ketidakpastian pekerjaan (Behrani, 2017; Egwuonwu et al., 2016; Hossain et al., 2018; Kolahi et al., 2017; Kumar and Muralidhar, 2016; Lee et al., 2011; Ojukwu et al., 2017; Watanabe et al., 2018; Widanarko et al., 2014).  Masing-masing peneliti mengamati beberapa faktor psikososial yang berhubungan dengan MSS.

Secara umum, mungkin belum banyak tempat kerja yang berfokus pada aspek-aspek piskososial ini.  Hal ini dapat kita lihat dalam hazard identification yang dilakukan belum banyak yang berfokus kepada aspek psikososial.  Secara umum, identifikasi bahaya yang dilakukan masih kepersoalan yang kasat mata seperti kondisi fisik dari pekerjaan tersebut.  Sehingga upaya-upaya dalam meminimalisir risiko yang dilakukan seperti perubahan desain tempat Kerja agar pekerja dapat bekerja dengan nyaman.  Namun ternyata persoalaan psikososial ini perlu kita analisis secara mendalam untuk dijadikan bahan dalam melakukan identifikasi bahaya ditempat Kerja.  Bisa jadi persoalan psikososial adalah faktor dominan yang dapat mempengaruhi keluhan musculoskeletal pada pekerja ditempat bapak/ibu bekerja.

Stress dan Musculoskeletal Symptoms (MSS)

Seperti penelitian yang dilakukan oleh Widanarko (Dosen K3 di Universitas Indonesia) yang menyatakan bahwa ada hubungan antara mereka yang sangat stres dengan keluhan pada bagian leher 1,9 kali dibanding mereka yang tidak mengeluhkan stress kerja (Widanarko et al., 2014).  Penelitian ini juga sejalan dengan Penelitian lain yang juga menyatakan ada hubungan yang signifikan antara level stress dan MSDs (De Almeida et al., 2017; Yilmaz and Dedeli, 2012).  Nah sekarang coba diamati, apakah pekerja ditempat anda mengalami stress atau tidak?  Karena bisa jadi kondisi ditempat anda bekerja yang stress dapat berhubungan dengan Musculoskeletal Symptoms pada pekerja. 

Stress Kerja
Stress Kerja diyakini memiliki hubungan yang signifikan dengan Musculoskeletal Symptoms (MSS) pada pekerja

Kok bisa terjadi?

Seseorang yang mengalami stress tentu akan menyebabkan ototnya berkontraksi.  Jika hal kondisi stres tersebut bersifat jangka panjang maka tidak ada waktu istirahat bagi otot untuk relax karena otot dipaksa untuk terus berkontraksi.  Otot yang berkontraksi terus menerus lama kelamaan akan menyebabkan rasa nyeri seperti kram.  Inilah yang saya maksud belum dimasukkannya aspek psikososial dalam pelaksanaan HIRADC.

Leadership/ Organisasi Kerja dan Musculoskeletal Symptops (MSS)

Penelitian lain yang berkaitan dengan faktor psikososial misalnya berkaitan dengan kepemimpinan.  Dalam penelitian yang dilakukan Bergsten pada tahun 2015 mengatakan bahwa rendahnya/ buruknya penilaian domain kepemimpinan dalam organisasi berkaitan dengan low back pain. Selain itu faktor psikososial lainnya misalnya endahnya pengaruh dan pengembangan secara signifikan terkait dengan keluhan pada bagian tungkai bawah (Lower Limb Pain) (Yue et al., 2014).   Pengaruh dalam hal ini yaitu besarnya pengaruh seseorang yang terkait pekerjaan di dalam organisasi tersebut.  Pengembangan dalam organisasi berkaitan dengan adanya peluang bagi pekerja untuk mendapatkan berbagai kesempatan dalam meningkatkan skill ataupun peluang untuk naik level di dalam organisasi tersebut.  Selain itu ada pula faktor psikososial lainnya seperti kontrol atas waktu kerja yang buruk artinya pekerja tidak dapat mengatur waktu istirahatnya sendirinya.  Sehingga ketika kondisi sudah lelah dengan tuntutan pekerjaan yang tinggi, otot dipaksa terus bekerja hingga waktu istrihat tiba.  Kondisi ini umumnya ditemukan pada pekerja yang bekerja sebagai operator produksi dan berkorelasi dengan berat beban fisik yang berat.  Oleh karena itu, kedua faktor ini memiliki hubungan yang signifikan terhadap terjadinya keluhan pada bagian bahu dan punggung bawah.

Bagaimana cara mengukur dan menilai faktor risiko psikososial?

Apa saja faktor psikososial yang dapat diamati dan bagaimana menilai kondisi faktor psikososial tersebut?  Ada banyak cara untuk melakukan pengukuran dan penilaian faktor risiko psikososial di tempat kerja.  Job content questionnaire (JCQ), The Copenhagen psychosocial quiestionnaire (Copsoq), Depression Anxiety Stress Scale (DASS), Hamilton Anxiety Rating Scale, dan Effort Reward Imbalance (ERI) adalah sekian dari banyak tools yang dapat digunakan.  Masing-masing tools tersebut tentunya memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing.

JCQ sendiri memiliki kelebihan mampu mengukur tingkat psikososial pada skala organisasi kerja karyawan dan konten pekerjaan psikososial, namun sayangnya JCQ tidak mampu menilai faktor psikososial yang berkaitan dengan personality dan juga stress kerja.  Sementara itu COPSOQ memiliki kelebihan dapat mengukur konten pekerjaan, dari tingkat organisasi hingga personality dan cocok untuk berbagai macam jenis industry.  Namun memang untuk COPSOQ sendiri memiliki banyak pertanyaan yang harus dijawab oleh responden. DASS, HARS atau ERI masing-masing berfokus hanya pada depresi, kecemasan dan stress sehingga tidak dapat mengukur faktor psikososial terkait dengan konten pekerjaan hingga tingkat organisasi.

Silahkan tools-tools tersebut disesuaikan dengan faktor risiko psikososial ditempat kerja Bapak/Ibu yang ingin diamati. 

“Pembahasan masing-masing tools akan dibahas terpisah pada tulisan selanjutnya.”

Referensi

  • Behrani, P., 2017. Association between Psychosocial Factors at Work and Prevalence of Upper Musculoskeletal Systems Disorders : A Pilot Study. Glob. Bus. Manag. Res. An Int. J. 9, 181–188.
  • De Almeida, L.B., Vieira, E.R., Zaia, J.E., De Oliveira Santos, B.M., Lourenço, A.R.V., Quemelo, P.R.V., 2017. Musculoskeletal disorders and stress among footwear industry workers. Work 56, 67–73. https://doi.org/10.3233/WOR-162463
  • Egwuonwu, A.V., Mbaoma, C.P., Abdullahi, A., 2016. Prevalence and associated risk factors of work-related musculoskeletal disorders among road construction workers in a Nigerian community. Ergon. SA 28, 25. https://doi.org/10.4314/esa.v28i1.4
  • Hossain, M.D., Aftab, A., Al Imam, M.H., Mahmud, I., Chowdhury, I.A., Kabir, R.I., Sarker, M., 2018. Prevalence of work related musculoskeletal disorders (WMSDs) and ergonomic risk assessment among readymade garment workers of Bangladesh: A cross sectional study. PLoS One 13, 1–19. https://doi.org/10.1371/journal.pone.0200122
  • Kolahi, S., Khabbazi, A., Malek Mahdavi, A., Ghasembaglou, Amid, Ghasembaglou, Arezoo, Aminisani, N., Somi, M.H., Heidari, F., 2017. Prevalence of musculoskeletal disorders in Azar cohort population in Northwest of Iran. Rheumatol. Int. 37, 495–502. https://doi.org/10.1007/s00296-017-3661-1
  • Kumar, S., Muralidhar, M., 2016. Analysis for prevalence of carpal tunnel syndrome in shocker manufacturing workers. Adv. Prod. Eng. Manag. 11, 126–140. https://doi.org/10.14743/apem2016.2.215
  • Lee, H., Ahn, H., Park, C.G., Kim, S.J., Moon, S.H., 2011. Psychosocial Factors and Work-related Musculoskeletal Disorders among Southeastern Asian Female Workers Living in Korea. Saf. Health Work 2, 183–193. https://doi.org/10.5491/SHAW.2011.2.2.183
  • Ojukwu, C.P., Anyanwu, G.E., Nwabueze, A.C., Anekwu, E.M., Chukwu, S.C., 2017. Prevalence and associated factors of work related musculoskeletal disorders among commercial milling machine operators in South-Eastern Nigerian markets. Work 58, 473–480. https://doi.org/10.3233/WOR-172647
  • Okunribido, O.O., 2016. Are older workers at greater risk of musculoskeletal disorders in the workplace than young workers ? – A literature review. https://doi.org/10.3233/OER-2011-0192
  • Widanarko, B., Legg, S., Devereux, J., Stevenson, M., 2014. The combined effect of physical, psychosocial/organisational and/or environmental risk factors on the presence of work-related musculoskeletal symptoms and its consequences. Appl. Ergon. 45, 1610–1621. https://doi.org/10.1016/j.apergo.2014.05.018
  • Yilmaz, E., Dedeli, O., 2012. Effect of physical and psychosocial factors on occupational low back pain. Heal. Sci. J. 6, 598–609.
  • Yue, P., Xu, G., Li, L., Wang, S., 2014. Prevalence of musculoskeletal symptoms in relation to psychosocial factors. Occup. Med. (Chic. Ill). 64, 211–216. https://doi.org/10.1093/occmed/kqu008

3 COMMENTS

    • Terima kasih Pak Lutfi. Semoga bermanfaat. Jangan lupa untuk subscire Pak.. Agar setiap ada update artikel bisa langsung dapat melalui email bapak.

Tinggalkan Komentar di sini