Opini

Lindungi Anak dari Bahaya Screen Time

Sudah menjadi fenomena umum saat ini, anak kecil menggunakan gadget untuk melihat video atau bermain game baik secara online maupun offline hingga berjam-jam. Hal tersebut disebut dengan aktivitas screen time, yaitu aktivitas yang dilakukan di depan layar elektronik. Screen time sendiri merupakan waktu yang dihabiskan untuk melakukan kegiatan di depan layar elektronik, seperti seperti handphone, tablet, laptop/komputer, atau televisi. Aktivitas yang dilakukan dapat bermacam-macam, seperti melihat video atau gambar, menulis teks, bermain game, menggambar, atau menggunakan media sosial. Selama berinteraksi dengan gadget atau alat elektronik, anak cenderung diam dan bersikap tenang. Banyak orangtua mulai merasa terbantu dengan kehadiran gadget dan menjadikannya sebagai sarana untuk mengalihkan perhatian anak dan membuat anak bersikap tenang. Akan tetapi, apakah aktivitas screen time baik dilakukan untuk anak kecil? Sejak usia berapa sebaiknya anak mulai mengenal aktivitas screen time?

Meskipun sangat membantu orangtua, namun screen time memiliki dampak negatif bagi tumbuh kembang anak. Sayangnya, belum banyak orangtua yang menyadari hal tersebut karena dampak negatif yang tidak dirasakan secara langsung. Screen time dapat menyebabkan anak mengalami hambatan dalam perkembangan bahasa dan keterampilan sosial (Dunckley, 2015). Selain itu, paparan radiasi dari alat elektronik yang digunakan anak dapat menghambat perkembangan otak dan memunculkan masalah, seperti gangguan tidur atau mood pada anak. Stimulasi yang berlebihan dari video atau gambar dalam layar elektronik juga dapat menyebabkan perkembangan yang tidak optimal pada fungsi eksekutif dan otak bagian prefrontal korteks. Anak akan mengalami kesulitan dalam konsentrasi, sulit untuk mengikuti aturan, mengendalikan diri, dan juga menyelesaikan pekerjaan apabila fungsi eksekutifnya tidak berkembang dengan baik.

Aktivitas screen time merupakan hal yang sulit dihindari di era digital saat ini. Terlebih lagi, anak semakin mudah mengakses alat elektronik atau gadget dari lingkungan mereka. Oleh karena itu, orangtua perlu mengelola aktivitas screen time yang sehat di rumah. Beberapa langkah yang dapat dilakukan:

Pertama, ciptakan waktu dan tempat yang bebas dari gadget atau screen free. Orangtua dan anak dapat membuat kesepakatan mengenai waktu-waktu dan tempat yang bebas dari aktivitas menggunakan gadget. Tentunya, peraturan tersebut berlaku tidak hanya untuk anak, tetapi juga untuk orangtua. Apabila peraturan telah ditetapkan, orangtua juga harus mampu menahan dirinya untuk tidak melakukan aktivitas screen time di waktu screen free atau ketika sedang bersama anak.

Kedua, jadikan kamar tidur sebagai area bebas layar atau screen free. Adanya area bebas layar akan membantu berkurangnya aktivitas screen time pada malam hari dan sebelum tidur sehingga dapat meningkatkan kualitas tidur anak.

Ketiga, lakukan aktivitas screen time bersama-sama. Dengan melakukan aktivitas screen time bersama, orangtua dapat mengawasi aktivitas yang dilakukan anak, terutama saat mengakses internet. Ketika mendampingi anak melakukan screen time, orangtua juga dapat memberikan pemahaman mengenai penggunaan internet yang baik kepada anak.

Keempat, jadikan aktivitas screen time sebagai hadiah karena anak telah menyelesaikan pekerjaannya. Dengan peraturan tersebut, anak mengerti kapan dapat melakukan aktivitas screen time. Tentunya peraturan tersebut harus dibicarakan dan disepakati bersama antara orangtua dan anak. Perlu diingat bahwa tetap ada batasan harian dalam penggunaan screen time anak. American Academy of Pediatrics menyarankan agar aktivitas screen time mulai diberikan saat anak berusia tiga tahun dengan durasi maksimal satu jam per hari.

Kelima, seimbangkan dengan aktivitas fisik untuk anak. Interaksi yang terlalu banyak dengan gadget dapat menyebabkan anak cenderung pasif sehingga sedikit melakukan aktivitas fisik. Oleh karena itu, orangtua perlu memberikan kegiatan yang dapat melibatkan fisik anak sebagai stimulasi untuk perkembangan fisiknya di masa kanak-kanak.

Wirdatul Anisa

The author Wirdatul Anisa

Clinical Psychologist

Tinggalkan Komentar di sini