Opini

Perlukah Indonesia Mengadopsi Telehealth?

Nur Atika S.K.M. – Telehealth

Sebagai negara kepulauan, kesenjangan dalam hal penyediaan layanan kesehatan masih menjadi salah satu masalah yang dihadapi Indonesia. Tantangan geografis adalah salah satu faktor yang menyebabkan masih belum meratanya penyediaan layanan kesehatan di daerah-daerah terpencil, terluar, dan perbatasan. Daya tampung rumah sakit tidak merata dengan rasio tempat tidur rumah sakit per jumlah populasi yang masih rendah yakni 1 hospital bed per 90000 penduduk menurut data Organisasi Kesehatan Dunia (WHO, 2013). Persebaran dokter spesialis hanya terkonstentrasi di kota-kota besar. Maka dari itu, bukan tidak mungkin jika biaya dan waktu perjalanan menjadi salah satu faktor penghambat bagi masyarakat di daerah terpencil untuk mengakses pelayanan kesehatan yang berkualitas.

Di era perkembangan teknologi saat ini, beberapa negara telah mengadopsi salah satu metode untuk mengurangi kesenjangan pelayanan kesehatan yang dikenal dengan istilah telehealth atau telemedicine. WHO mendefinisikan telemedicine sebagai metode pelayanan kesehatan jarak jauh yang mampu menghubungkan pasien dengan tenaga kesehatan menggunakan teknologi dan informasi elektronik. Contoh praktik telemedicine meliputi konsultasi melalui video-conference dan email, pengiriman gambar CT scan sebelum pasien di transfer untuk operasi, dan lain-lain. Sedangkan, konsep telehealth memiliki makna yang lebih luas, tidak hanya terbatas untuk hal kuratif, melainkan juga untuk aspek promotif dan preventif.

Telemedicine merupakan salah satu strategi alternatif yang dapat membantu pasien untuk terhubung dengan tenaga ahli kesehatan. Di India misalnya, telekonferensi dijadikan sebagai sarana untuk konsultasi jarak jauh antara dokter atau perawat di desa terpencil dengan dokter ahli di seluruh rumah sakit besar di India (Aryanti, 2017). Pasien akan dirujuk ke rumah sakit besar jika dari hasil telekonferensi tersebut menyarankan perlunya penanganan lebih lanjut (Aryanti, 2017). Sistem telekonferensi ini tentu berpotensi untuk menghemat biaya yang dikeluarkan oleh pasien karena teknologi ini memungkinkan pasien untuk meminimalisir biaya perjalanan. Dengan berkurangnya beban biaya dan waktu perjalanan, teknologi ini diharapkan mampu untuk meningkatkan aksesibilitas pelayanan kesehatan yang berkualitas bagi masyarakat, khususnya masyarakat di daerah terpencil.

Disamping maanfaat untuk pasien atau masyarakat, telehealth juga dapat dimanfaatkan sebagai wadah untuk pendidikan dan training bagi tenaga kesehatan. Sebagai contoh, di Australia, pendidikan berbasis web yang diinisiasi oleh Australian College of Rural and Remote Medicine membantu tenaga kesehatan professional di daerah pedesaan atau terpencil untuk mendapatkan pendidikan atau pelatihan secara online.

Apakah telemedicine merupakan hal yang sangat baru di Indonesia? Telemedicine di Indonesia baru diimplementasikan dalam skala proyek percontohan (pilot project). Sejak tahun 2001, Kementerian Kesehatan Republik Indonesia menjalankan pilot project telemedicine, khususnya dalam bidang tele-ekokardiografi, teleradiologi dan teleradioterapi (WHO, 2013). Selain itu, di institusi swasta, telehealth telah diadopsi secara informal, khususnya dalam hal pengiriman hasil tes atau gambar. Pertanyaan selanjutnya adalah perlukah strategi ini diimplementasikan secara lebih luas (nasional) dan menyangkut lebih banyak bidang?

Implementasi telehealth secara luas tentu membutuhkan banyak sumberdaya dan kesiapan. Beberapa aspek yang perlu dipertimbangkan untuk implementasi telehealth meliputi ketersediaan listrik dan internet yang memadai sehingga program ini betul-betul dapat menjangkau masyarakat di daerah terpencil yang umumnya infrastruktur listrik dan internet masih menjadi kendala. Penerimaan masyarakat terhadap teknologi baru khususnya bagi mereka yang memiliki latar belakang pendidikan yang rendah juga perlu menjadi pertimbangan. Selain itu, mengingat besarnya biaya instalasi telemedicine, perlu dilakukan penelitian atau evaluasi mengenai aspek ekonomi, khususnya dari segi efektivitas biaya (cost-effectiveness) untuk menilai apakah investasi atau dana yang dibutuhkan untuk teknologi ini sebanding dengan manfaat yang bisa dihasilkan. Meskipun telah ada beberapa kajian di beberapa negara mengenai implementasi telehealth, kajian lebih lanjut mengenai telehealth untuk konteks Indonesia merupakan suatu kebutuhan untuk dapat menjawab pertanyaan mengenai kelayakan penerapan sistem telehealth di Indonesia.

Daftar Pustaka:
World Health Organization 2013, Telemedicine: sharing experience and a way forward, World Health Organization, Pyongyang.
Aryanti, S & Kautsarina 2017, ‘Kajian tekno-ekonomi pada telehealth di Indonesia’, Buletin Pos dan Telekomunikasi, vol. 15, No.1, hh. 43-54.

Tags : telehealth
Nur Atika

The author Nur Atika

Master of Public Health Student, Specialization in Health Economics and Economic Evaluation, The Univ of Melbourne

Tinggalkan Komentar di sini