Safety

Kecelakaan Transportasi Pelayaran di Indonesia Terus Meningkat

Kecelakaan Transportasi Pelayaran

Pada tahun 2017 hingga awal tahun 2018, sepertinya kasus kecelakaan konstruksi begitu tinggi. Tercatat 14 kecelakaan konstruksi terjadi pada tahun 2017-2018 seperti yang dirangkum oleh katigaku.top. Hingga akhirnya pemerintah memutuskan untuk memberhentikan sementara Pekerjaan Konstruksi Jalan Layang yang tertuang pada surat dari Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat Republik Indonesia bernomor IK.01.01-MN/248. Tak lama kemudian, pelayaran Indonesia menjadi sorotan karena dalam waktu dekat terjadi kasus kecelakaan transportasi pelayaran. Dua contoh yang menjadi sorotan akhir-akhir ini adalah tenggelamnya KM Sinar Bangun di perairan Danau Toba, Sumatera Utara pada Senin 18 Juni 2018. Dirjen Perhubungan Udara Agus Santoso mengatakan korban hilang penumpang KM Sinar Bangun yang tenggelam berjumlah 186. Sebanyak 94 orang teridentifikasi, sedangkan 92 orang belum diketahui identitasnya. Kemudian yang kedua KM Lestari Maju yang kandas di perairan Selayar, Sulawesi Selatan pada (3/7/2018).

Data dari data yang diambil dari website knkt.dephub.go.id, bahwa pada tahun 2017 mengalami kenaikan hampir 2x jumlah kecelakaan transportasi pelayaran di Indonesia. Data kecelakaan transportasi pelayaran dapat dilihat pada tabel dibawah ini.

Data Kecelakaan Transportasi Pelayaran s.d 2017 yang di investigasi KNKT
Data Kecelakaan Transportasi Pelayaran s.d 2017 yang di investigasi KNKT

Jika melihat kondisi transportasi pelayaran di Indonesia memang perlu banyak yang harus dilakukan perbaikan. Dari laporan yang disampaikan oleh Haryo Satmiko, ATD, S.Sos, M.Pd. (Plt. Ketua Sub Komite Investigasi Kecelakaan Pelayaran) ada beberapa faktor kontribusi terjadinya kecelakaan transportasi pelayaran yaitu:

  1. Belum tersedia aturan yang mengatur dan lemahnya pengawasan terhadap kapal-kapal angkutan penumpang tradisional
  2. Masih banyak ditemukan penggunaan Genset Tambahan di luar kamar mesin sebagai sumber daya listrik utama kapal
  3. Pengawasan terhadap implementasi ISM Code di kapal, banyak ditemukan ketidaksesuaian antara dokumen dan fakta.
  4. Penanganan muatan berbahaya yang diangkut truk yang akan masuk ke kapal penyeberangan atau kapal laut angkutan RoRo.

Faktor kontribusi adalah sesuatu yang mungkin menjadi penyebab kejadian. Dalam hal ini semua tindakan, kelalaian, kondisi atau keadaan yang jika dihilangkan atau dihindari maka kejadian dapat dicegah atau dampaknya dapat dikurangi.

Distribusi Investigasi Kecelakaan Pelayaran th 2017
Distribusi Investigasi Kecelakaan Pelayaran th 2017

Jika anda pernah menggunakan transportasi laut (misalnya kapal laut) dan transportasi udara (pesawat) tentu anda akan menemukan perbedaan dalam segi tingkat keselamatan. Ya, ketika anda menaiki pesawat, awak kabin akan memperagakan petunjuk keselamatan baik itu anda sudah pernah mendapatkannya pada penerbangan sebelumnya ataupun belum dan itu menjadi sudah kewajiban bagi pihak pesawat. Namun memang masih saja ada penumpang yang acuh tak acuh. Umumnya informasi tersebut berupa rute keluar bila dalam keadaan darurat, mengencangkan sabuk pengaman, cara memakai dan mengembangkan pelampung, pemakaian masker oksigen serta kartu petunjuk keselamatan.

Entah berbeda pada transportasi laut, sepertinya penulis pribadi kurang mendapatkan informasi terkait dengan informasi keselamatan yang disampaikan oleh pihak kapal. Ya, apalagi jika kita melihat kondisi transportasi laut tradisional. Jangan harap mendapatkan informasi keselamatan dari pihak operator. Memang dalam hal ini perlu diakui, pemerintah punya kendala dalam mengawasi kapal angkutan penumpang tradisional ini. Bukan hanya dari pihak penyedia transportasi, namun juga terkadang dari penumpang itu sendiri. Misalnya saja ada instruksi dari Dirjen Hubungan Laut untuk menggunakan jaket penolong (life jacket) di dalam kapal. Namun coba perhatikan apakah semua penumpang menggunakannya? Beberapa alasan yang sering ditemukan adalah ribet, panas dan beberapa hal lain yang akhirnya membuat penumpang enggan menggunakannya.

Berikut ini beberapa hal yang harus ditaati terkait dengan penggunaan transportasi laut sesuai dengan Instruksi Nomor UM.008/I/II/DJPL-17 tanggal 3 Januari 2017 tentang Kewajiban Nakhoda dalam Penanganan Penumpang Selama Pelayaran

  1. Kesesuaian antara jumlah penumpang dalam manifest dengan jumlah penumpang yang ada di atas kapal yang memiliki tiket;
  2. Awak kapal harus melakukan pengenalan penggunaan baju pelampung;
  3. Awak kapal menunjukkan jalur keluar darurat (emergency escape) dan tempat berkumpul (muster station) serta perintah penyelamatan diri kepada penumpang kapal;
  4. Awak kapal menunjukkan tempat-tempat penyimpanan alat keselamatan kapal dan pengoperasiaanya;
  5. Keberangkatan kapal tradisional yang memuat penumpang wajib memakai jaket penolong (life jacket) khusus kapal penumpang yang melayani Kepulauan Seribu, Danau Toba, Lombok, Padang Bai, Tarakan, Kepulauan Riau, Palembang, Ternate, Manado dan atau daerah yang menggunakan kapal penumpang tradisional.

Nah, kalau menurut rekan-rekan apa penyebab dari kecelakaan transportasi pelayaran yang terus meningkat?

Tags : kecelakaanpelayarantransportasi
Noviaji Joko Priono

The author Noviaji Joko Priono

Alumni kesehatan lingkungan dari Universitas Indonesia. Setelah lulus S1, dia bekerja sebagai seorang HSE di sebuah perusahaan otomotif. Sekarang Joko sedang menempuh studi Magister di Universitas Indonesia pada bidang Keselamatan & Kesehatan Kerja.

Tinggalkan Komentar di sini