close
Health

Hipertensi (Tekanan Darah Tinggi): Definisi, Gejala dan Penyebabnya

Hipertensi
Hipertensi
Hipertensi

Hipertensi dikenal juga dengan istilah tekanan darah tinggi. Tekanan darah adalah kekuatan darah yang berasal dari jantung untuk mendorong pembuluh darah baru (arteri) ketika bersirkulasi ke seluruh tubuh. Tekanan darah ini biasanya di hitung dengan satuan mmHg1. Tekanan darah tinggi sendiri diartikan sebagai tekanan yang terjadi secara berlebihan ketika darah mendorong pembuluh darah baru (arteri) ke seluruh tubuh.

Seseorang yang berisiko mengalami hipertensi akan memiliki nilai tekanan darah lebih dari 120/80 mmHg.  Hipertensi merupakan salah satu penyakit tidak menular.  Tekanan darah tinggi saat ini tidak hanya terjadi di kalangan orang tua namun juga bisa terjadi di kalangan remaja.

Kategori tekanan darah dapat dikelompokkan menjadi 5 (lima) bagian yaitu

  • Normal : Jika Systolic kurang dari 120 mm Hg dan Diastolic kurang dari 80 mm Hg
  • Batas Atas : Jika Systolic rentang dari 120-129 mm Hg dan Diastolic kurang dari 80 mm Hg
  • Hipertensi 1 :  Jika Systolic rentang dari 130-139 mm Hg dan Diastolic rentang dari 80-89 mm Hg
  • Hipertensi 2 :  Jika Systolic lebih dari dari 140 mm Hg dan Diastolic lebih dari dari 90 mm Hg
  • Hipertensi Krisis :  Jika Systolic lebih dari dari 180 mm Hg dan Diastolic lebih dari 120 mm Hg
GEJALA HIPERTENSI

Hipertensi biasanya disebut dengan silent killer’ karena seringkali tidak memunculkan gejala dan banyak orang tidak menyadari bahwa orang tersebut memilikinya.  Oleh karena itu, penting sekali mengukur tekanan darah secara teratur.

Jika seseorang sudah mengalami hipertensi berat maka gejala yang akan timbul diantaranya

  • Kelelahan,
  • Mual,
  • Muntah,
  • Kebingungan,
  • Kelelahan,
  • Nyeri di dada, dan
  • Tremor otot.
PENYEBAB HIPERTENSI

Ada beberapa faktor risiko yang dapat meningkatkan risiko mengalami hipertensi.  Faktor risiko ini dibedakan menjadi dua yaitu faktor yang bisa di ubah dan faktor yang tidak bisa di ubah.

Faktor yang dapat diubah yaitu:

Mengkonsumsi Alkohol

Studi epidemiologi, praklinis, & klinik telah menetapkan bahwa hubungan antara konsumsi alkohol yang tinggi dengan kejadian hipertensi.  Namun para ahli kesulitan untuk menjelaskan secara pasti mengenai mekanisme tersebut.  Beberapa kemungkinan yang dapat dipahami adalah dimana hal itu terjadi karena terjadinya ketidak seimbangan pada saraf pusat, gangguan pada baroreseptor, peningkatan aktivitas simpatetik, stimulus renin-angiotensin-aldoseteron, peningkatan kadar kortisol dan karena peningkatan kadar kalsium saat mengkonsumsi alkohol.2

Minim Aktivitas Fisik

Penelitian yang dilakukan dalam Clinical Nutrition ESPEN Vol.24, April 2018 pages 188-199 disebutkan bahwa antara tekanan darah sistolik dan diastolik, ada hubungan yang signifikan dengan tingkat aktivitas fisik.

Merokok

Seseorang yang merokok cenderung memiliki blood pressure  yang tinggi daripada orang-orang yang tidak merokok.  Nikotin yang terdapat pada tembakau bisa memacu sistem saraf untuk melepaskan zat kimia yang bisa menyempitkan pembuluh darah dan berkontribusi terhadap tekanan darah tinggi.  Dan hal ini juga berlaku bagi perokok pasif.

Konsumsi Garam Berlebih

Tubuh mengeluarkan cairan yang tidak diinginkan dengan menyaring darah melalui ginjal dan air ekstra tersebut dikeluarkan sebagai urin. Proses ini menggunakan keseimbangan natrium dan kalium untuk menarik air melintasi dinding sel dari aliran darah ke saluran pengumpul yang mengarah ke kandung kemih.  Makan garam meningkatkan jumlah natrium dalam aliran darah dan merusak keseimbangan yang halus, mengurangi kemampuan ginjal untuk mengeluarkan air.  Hasilnya adalah tekanan darah yang lebih tinggi karena cairan ekstra dan tekanan ekstra pada pembuluh darah halus yang mengarah ke ginjal.3

Kegemukkan

Penyumbatan darah sering terjadi pada orang yang kelebihan lemak.  Hal ini tentunya membuat suplai oksigen dan zat makanan kedalam tubuh menjadi terhambat.  Dengan adanya proses penyempitan dan sumbatan oleh lemak ini, mau tidak mau jantung dipaksa untuk bekerja ekstra memompa darah ke jaringan tubuh lainnya.  Akibatnya tekanan darah meningkat dan terjadilah hipertensi.

 

Faktor risiko yang tidak bisa diubah diantaranya:

  • Usia, semakin bertambah usia semakin berisiko mengalami tekanan darah tinggi
  • Jenis kelamin, laki-laki lebih berisiko mengalami tekanan darah tinggi
  • Riwayat tekanan darah tinggi dari keluarga, seseorang yang memiliki keturunan hipertensi lebih besar berisiko mengalami hipertensi ditambah jika orang tersebut memiliki gaya hidup yang tidak sehat
Pencegahan Hipertensi

Perlu kita pahami, bahwa tekanan darah tinggi merupakan penyakit yang disebabkan oleh banyak faktor.  Sehingga dalam pencegahannya pun sebaiknya kita memperhatikan aspek-aspek lainnya.  Pencegahan dapat dilakukan dengan mengendalikan faktor-faktor risiko seperti tidak merokok, tidak mengkonsumsi alkohol, memperbanyak melakukan aktivitas fisik dengan minimal 30 menit/hari serta mengurangi konsumsi berlebih.

Tags : Hipertensipenyakit tidak menularPTMtekanan darah tinggi
Mia Muthiasari

The author Mia Muthiasari

Lulusan Gizi - Universitas Indonesia. Content Writer Coordinator di Sadkes.net

Tinggalkan Komentar di sini