Health

Cara Mencegah Stunting pada 1000 Hari Pertama Kehidupan

Pencegahan Stunting

Pencegahan stunting sebenarnya dapat dilakukan dengan berfokus pada pemenuhan zat gizi pada 1000 Hari Pertama Kehidupan (HPK).  Pemenuhan zat gizi yang baik akan mendukung proses pertumbuhan dan perkembangan anak mulai dari terbentuknya janin sampai anak usia 2 tahun. Mengapa sampai 2 tahun? Karena fase tersebut masuk kedalam fase 1000 Hari Pertama Kehidupan (HPK) atau biasa disebut dengan periode emas. Pada fase ini semua pertumbuhan dan perkembangan terjadi sangat pesat sehingga butuh asupan zat gizi yang cukup untuk mendukungnya. Jika anak tidak mendapatkan asupan yang cukup maka tidak dapat diperbaiki dimasa yang akan datang. 1000 HPK dihitung dari 270 hari (9 bulan) di dalam kandungan dan 730 hari (2 tahun) setelah lahir1.

Pencegahan Stunting dengan Asupan Zat Gizi saat Hamil
  1. Zat Besi

Pencegahan stunting dapat dilakukan dengan memberikan asupan zat besi yang cukup.  Zat besi berfungsi untuk mengikat oksigen dalam darah. Zat besi ini dapat dijumpai di dalam hemoglobin yang berada di dalam sel darah merah. Ketika hamil, tubuh akan menghasilkan banyak darah karena adanya janin di dalam tubuh sehingga dibutuhkan zat besi yang banyak pula untuk mendukung kelancaran pengikatan oksigen dalam darah. Kadar zat besi yang sangat rendah akan mempengaruhi pertumbuhan dan perkembangan bayi, bayi lahir prematur, serta berat bayi lahir rendah.2

Untuk memenuhi asupan zat besi dalam tubuh, beberapa makanan yang mengandung zat besi diantaranya daging merah, unggas, dan tuna merupakan sumber zat besi yang baik. Namun, Anda dapat juga mengonsumsi sumber zat besi lainnya yang berasal dari tumbuhan polong (kacang merah, kacang panjang, buncis), gandum, sereal, tumbuhan hijau (brokoli, bayam, pokchoy)3.

  1. Asam Folat

Sama halnya dengan zat besi, kebutuhan asam folat ketika hamil cukup meningkat karena berfungsi untuk membantu proses pertumbuhan janin. Asam folat merupakan salah satu vitamin yang larut dalam air yaitu vitamin B lebih tepatnya adalah B9. Asam folat berfungsi untuk menurunkan risiko terjadinya NTD (Neural Tube Defect) atau cacat tabung saraf. NTD ini merupakan kelompok kelahiran yang serius yang mempengaruhi sumsum tulang belakang, otak, dan tengkorak4. Bayi yang lahir dengan NTD tidak akan bertahan lama setelah lahir atau lahir dalam keadaan sudah meninggal. Oleh karena itu penting untuk ibu hamil mengonsumsi asam folat yang cukup untuk perkembangan sumsum tulang belakang, otak, dan tengkorak yang baik.

Kebutuhan asam folat saat hamil yaitu sebanyak 400 µg atau 0,4 mg per harinya. Kebutuhan tersebut dapat dipenuhi dengan mengonsumsi makanan yang mengandung asam folat yang dapat ditemui di sayuran hijau (asparagus, bayam, brokoli, selada), kacang-kacangan (kacang polong, kacang hijau, kacang , buah-buahan (seperti jeruk, alpukat, buah bit), dan gandum4. Selain mengonsumsi makanan, konsumsi suplemen juga menjadi salah satu cara untuk memenuhi kebutuhan asam folat di dalam tubuh.

Berdasarkan penelitian yang dilakukan Nisar, dkk (2016) menunjukkan bahwa konsumsi suplemen asam folat-zat besi / IFA (Iron-Folic Acid) supplement yang dikonsumsi selama hamil secara signifikan dapat mengurangi risiko terjadinya stunting sebesar 14% dibandingkan dengan ibu yang tidak mengonsumsi suplemen selama hamil5.

Berikan ASI Eksklusif selama 6 bulan dan MP-ASI yang Tepat Sampai 2 Tahun

Setelah 9 bulan di dalam kandungan, bayi tergantung pada konsumsi ibunya ketika hamil. Asupan zat besi dan asam folat yang cukup menjadikan pertumbuhan dan perkembangan bayi di dalam kandungan optimal. Namun, tidak cukup sampai disitu anak masih butuh asupan yang cukup sampai usia-nya 2 tahun. Pada 6 bulan pertama berikan ASI eksklusif kepada anak karena pada masa ini ASI sudah cukup memberikan nutrisi yang baik untuk anak. Kemudian setelah usia 6 bulan, anak membutuhkan asupan yang lebih dari sekedar ASI sehingga selain ASI berikan pula makanan pendamping ASI (MP-ASI) sampai usianya 2 tahun6.

  • Untuk usia 6-9 bulan berikan makanan yang lumat, teksturnya sangat lunak agar bisa dicerna oleh anak seperti bubur susu atau buah yang dilumatkan.
  • Untuk usia 10-12 bulan berikan makanan lembik, teksturnya lebih terlihat namun masih lembik seperti makanan yang diiris atau dipotong seperti tim saring, nasi tim, buah, atau biskuit.
  • Untuk usia 13-24 bulan mulai diperkenalkan makanan keluarga.
Tags : penyakit tidak menularPTMStunting
Mia Muthiasari

The author Mia Muthiasari

Lulusan Gizi - Universitas Indonesia. Content Writer Coordinator di Sadkes.net

Tinggalkan Komentar di sini