close
Health

Stunting : Umur Anak Sama, Kok Bisa Tinggi Badan Berbeda

Stunting

Salah satu masalah gizi di Indonesia yang belum terselesaikan adalah stunting atau tumbuh pendek.  Mengapa stunting masih menjadi masalah besar yang belum terselsaikan?

Berikut ini adalah 5 fakta penting seputar stunting di Indonesia yang perlu kamu ketahui.

  1. Indonesia Negara dengan Jumlah Anak Pendek Terbanyak Ke-5

di Dunia

Masalah stunting memang telah menjadi permasalahan gizi yang penting dan memerlukan perhatian semua pihak di Indonesia. Jumlah penderita stunting yang tinggi di Indonesia mencapai 8,8 Juta (37,3%) balita pada tahun 2013 membawa Indonesia sebagai negara dengan jumlah anak pendek terbanyak kelima di dunia setelah Tiongkok, India, Nigeria, dan Pakistan.

  1. Stunting Dinilai Melalui Pengukuran Tinggi Badan Menurut Umur

 

Merujuk pada Keputusan Menteri Kesehatan Nomor1995/Menkes/SK/ XII/2010 mengenai Standar Antoprometri Penilaian Status Gizi Anak, pengertian Pendek dan Sangat Pendek adalah status gizi yang didasarkan pada indeks Panjang Badan menurut Umur (PB/U) atau Tinggi Badan menurut Umur (TB/U).  Penilaian stunting dapat diketahui jika seorang balita sudah ditimbang berat badannya dan diukur panjang atau tinggi badannya, lalu dibandingkan dengan standar, dan hasilnya berada dibawah normal. Jika dibandingkan dengan standar baku WHO-MGRS (Multicentre Growth Reference Study) dikatakan stunting bila Panjang Badan menurut Umur nilai z-score-nya  <-2SD.

Berikut adalah contoh penilaian tumbuh pendek secara antopometri. Seorang anak laki-laki umur 7 bulan memiliki panjang badan 63,5 cm. Bagaimanakah status gizi anak tersebut? Anak laki-laki dengan umur 7 bulan, panjang badan 63,5 cm ada diantara -3SD dan -2SD dilihat berdasarkan Gb2 bagian atas. Berdasarkan Gb2 bagian bawah mengenai kategori dan ambang batas, panjang badan anak yang berada di antara -3SD dan -2SD tergolong PENDEK. Sehingga dapat disimpulkan status gizi anak laki-laki tersebut dikategorikan pendek berdasarkan indeks antropometri panjang badan menurut umur. Informasi lengkap mengenai standar antropometri penilaian status gizi anak bisa diakses di link berikut ini.

 

  1. Stunting Bukan Karena Pengaruh Genetik

Stunting adalah masalah kurang gizi kronis yang disebabkan oleh asupan gizi kurang dalam waktu cukup lama akibat pemberian makanan yang tidak sesuai dengan kebutuhan gizi. Terjadinya tumbuh pendek pada balita seringkali tidak disadari oleh para orang tua dan masyarakat umum. Salah satu alasanya mengapa Stunting tidak disadari karena biasanya baru terlihat setelah dua tahun ternyata balita tersebut pendek. Salah satu tantangan terpenting dalam mengatasi stunting di Indonesia adalah tubuh pendek sering dianggap wajar karena faktor keturunan. Stunting atau tumbuh pendek sebagian besar bukan karena pengaruh genetik melainkan terjadi sebagai akibat adanya gangguan pertumbuhan pada usia dini bahkan dapat berawal dari kandungan ibu. Ibu hamil yang kurang kurang energi kronis (KEK) dapat melahirkan anak dengan berat badan lahir rendah (BBLR) yang kurus, pendek atau keduanya. Selain faktor kekurangan asupan gizi, faktor lain yang penyebab stunting buruknya sanitasi lingkungan. Akibat sanitasi yang buruk salah satu perilaku hidup tidak bersih yang masih banyak ditemui di masyarakat adalah BAB sembarangan, anak menjadi diare sehingga kurang gizi. Akibatnya pertumbuhan terhambat sehingga anak menjadi pendek.

 

  1. Stunting Bisa Mengurangi Produktivitas Seseorang Pada Usia Muda dan Meningkatkan Risiko Terkena Penyakit Tidak Menular Saat Tua

Permasalahan tumbuh pendek menjadi penting di Indonesia selain karena jumlahnya yang cukup tinggi, stunting pun dapat menggambarkan kejadian kurang gizi pada balita yang berlangsung dalam waktu yang lama dan dampaknya yang tidak hanya secara fisik, akan tetapi pada penurunan fungsi kognitif. Masalah sebenarnya pada tumbuh pendek bukan pada tubuh yang pendek, akan tetapi jika seseorang terkena stunting proses lainnya di dalam tubuh akan terhambat seperti pertumbuhan otak yang berdampak pada kecerdasan. Pembentukan sel otak terjadi sejak janin masih dalam kandungan sampai anak berusia 2 tahun. Jika otak mengalami hambatan pertumbuhan, jumlah sel otak, serabut sel otak, dan penghubung sel otak berkurang, hal tersebut mengakibatkan penurunan intelegensia. Oleh karena itu, anak yang menderita tumbuh pendek berdampak tidak hanya pada fisik yang lebih pendek saja, tetapi juga pada kecerdasan, dan penurunan produktivitas pada usia muda. Bila diikuti dengan kenaikan berat bada tinggi saat tua, mereka akan berisiko terkena obesitas dan penyakit lain yang terkait pola makan.

  1. Pertumbuhan Stunting Dapat Dicegah Pemenuhan Zat Gizi Bagi Hamil Higga Anak Berusia 2 Tahun

Mata rantai kejadian balita tumbuh pendek dapat diputus dengan mencegah faktor risiko gizi kurang baik pada remaja putri, wanita usia subur (WUS), ibu hamil maupun balita. Salah satu program pemerintah untuk meningkatkan status gizi serta kesehatan ibu dan anaka adalah “Nutrisi 1000 Hari Pertama Kehidupan” dimulai sejak anak dalam kandungan hingga anak berusia dua tahun. Fase 1000 hari pertama  kehidupan ini adalah periode emas, karena pada periode ini terjadi pertumbuhan otak yang harus didukung dengan gizi yang cukup. Jika seorang anak mengalami kekurangan gizi pada 1000 Hari Pertama Kehidupan maka tidak dapat diperbaiki dimasa kehidupan selanjutnya. Berikut dibawah ini adalah langkah-langkah pemenuhan gizi pada 1000 Hari Pertama Kehidupan.

 

Referensi

  1. ,”Beban Ganda Malnutrisi Bagi Indonesia”. 
  2.  Aryastami, Ni Ketut. “Fenomena Stunting Dapat Dikoreksi”. 
  3. “Ada 8,8 Juta Balita Stunting di Indonesia”.
  4. “Makmun, Mardiana.”Indonesia Targetkan Kasus ‘Stunting’ Turun Jadi 28% Pada 2019”
  5. Samosir, Hanna Azarya. “ Indonesia Negara dengan Jumlah Anak Pendek Terbanyak”.
Tags : Stunting
Ida Fauziah

The author Ida Fauziah

Leave a Response