Environment

Ledakan Sampah Terbesar yang Terjadi di Dunia

Waste

Manajemen sampah merupakan tantangan utama di wilayah perkotaan di seluruh dunia. Tanpa program manajemen sampah yang efektif dan efisien, sampah yang dihasilkan dari berbagai aktivitas manusia, baik industri dan rumah tangga dapat mengakibatkan dampak terhadap kesehatan dan lingkungan. Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Zeng (2010), sampah menyumbang 10,39% dari total emisi gas-gas rumah kaca dari berbagai sektor.  Masalah persampahan bukan hanya menjadi tantangan bagi pengelolaan perkotaan, namun juga bagi pengelolaan di lingkungan institusi pendidikan. Lingkungan kampus merupakan salah satu tempat banyaknya manusia beraktivitas yang akhirnya akan menghasilkan sampah.

Berdasarkan hasil penelitian yang penulis lakukan tahun 2014 dengan judul Perencanaan Teknik Operasional pada Pengelolaan Sampah Padat Fakultas dan Fasilitas Umum di Universitas Indonesia, didapatkan hasil timbulan sampah padat yang dihasilkan per orang per hari di UI sebesar 0.023 kg/orang/hari atau 0.32 liter/orang/hari. Untuk timbulan sampah kantin 1.08 m3/kantin/hari, 2.72 m3/ha/hari untuk sampah taman dan 1,26 x10-4 m3/m/hari untuk sampah jalan.  Jika dikelompokkan berdasarkan komposisinya, sampah organik (sisa makanan) gedung memiliki persentase 36.2 %, sampah Bahan Berbahaya dan Beracun (baterai, lampu neon) 1.3 %, sampah guna ulang (botol, kaleng dan plastik) 25.8 %, sampah daur ulang (kertas-kertasan) 29.9 % dan sampah residu (pembalut, puntung rokok, dll) 6.8 %.

Sebagian besar sampah yang dihasilkan tersebut di buang ke TPA Cipayung menggunakan truk sampah dan ada juga yang diolah di Unit Pengolahan Sampah (UPS) UI khususnya sampah daun-daunan dan sampah kantin. Namun sayangnya program pengelolaan sampah ini belum banyak di dukung oleh civitas UI. Terbukti dari hasil temuan, di beberapa fakultas telah disediakan tempat sampah dengan jenis organik dan anorganik namun masih saja sampah di campur. Alasan yang pada umumnya di dapat dari kalangan mahasiswa adalah

 “toh, nanti di akhirnya dicampur juga”.

Tentunya ini menjadi tugas yang cukup berat bagi UI untuk terus menyosialisasikan program pemilahan sampah di kalangan civitas UI. Kebiasaan lama dengan tidak melakukan pemilahan sampah perlu diubah secara pelan-pelan.

Dalam penelitian yang penulis lakukan, akibat tidak melakukan pemilahan sampah salah satunya Fakultas di Kampus UI Depok kehilangan Rp 46.800.000 setiap tahunnya. Namun jika satu fakultas tersebut mampu melakukan pemilahan sampah secara benar dan mampu mengolah sampah tersebut maka kurang lebih Rp 73.605.080 keuntungan yang akan didapatnya dari sampah saja. Keuntungan tersebut didapatkan dari penjualan sampah botol dan kertas yang tentunya sangat banyak untuk di lingkup satu fakultas di UI per harinya. Serta hasil pengolahan sampah daun menjadi kompos yang juga sangat banyak karena area kampus UI Depok yang terdapat banyak pepohonan.

Tanpa adanya pemilahan sampah dan pengolahan sampah sejak dari sumbernya tentunya akan sangat membebani keberadaan Tempat Penampungan Akhir (TPA) sampah. Peristiwa ledakan TPA Leuwigajah pada 21 Februari 2005 harusnya menjadi sebuah pelajaran yang patut kita ingat untuk serius dalam mendukung pengolahan sampah. Ledakan tersebut terjadi akibat sampah yang tertimbun dalam jumlah yang banyak. Proses pengolahan lambat disebabkan oleh tidak dilakukannya pemilahan sampah sejak dari sumber. Ketika hujan mengguyur tumpukan sampah, gas metan akan keluar naik karena berat jenis yang lebih ringan dari air. Tumpukan sampah tidak memiliki ventilasi, akhirnya gas metan terjebak dan volumenya terus meningkat. Ketika timbunan gas dan volume terus meningkat ini bersentuhan dengan udara, terjadilah pijar api yang disertai ledakan. Ledakan sampah TPA Leuwigajah ini merupakan ledakan sampah terbesar kedunia di dunia setelah ledakan TPA Payatas Quezon City, Filiphina pada 10 Juli 2000.

Poster Ledakan Sampah

Berikut bencana ledakan TPA terbesar di dunia:

  1. Ledakan TPA Payatas, Quezon City, Filiphina pada 10 Juli 2000 menewaskan 200 an jiwa dan ratusan orang masih hilang. Ledakan akibat sampah terbesar di dunia.
  2. Ledakan TPA Leuwigajah Bandung, Indonesia pada 21 Februari 2005 menewaskan 143 jiwa dan 137 rumah tertimbun sampah. Bukit sampah setinggi 30 meter dengan kemiringan 60 derajat ambrol. Ledakan akibat sampah terbesar kedua di dunia. Ribuan ton kubik sampah longsor dan menimbun kebun dan lahan pertanian.
  3. Ledakan TPA Ano Liossia, Yunani pada Maret 2003 menelan puluhan korban jiwa. Ledakan sampah terbesar ketiga di dunia.

Kasus di atas nampaknya sudah bisa menjadi gambaran bagi kita semua untuk segera melakukan pemilahan sampah secara benar. Ayo, sama-sama kita wujudkan Indonesia Peduli Sampah dengan paling tidak melakukan pemilahan sampah sejak dari sumbernya serta mengurangi sampah yang dihasilkan. Jangan biarkan Indonesia menjadi peledak TPA sampah terbesar di dunia.

Tulisan telah diterbitkan di Lantan Bentala. Klik  Link Download Newsletter

Tags : KesehatanLedakan SampahLingkunganSampah
Noviaji Joko Priono

The author Noviaji Joko Priono

Alumni kesehatan lingkungan dari Universitas Indonesia. Setelah lulus S1, dia bekerja sebagai seorang HSE di sebuah perusahaan otomotif. Sekarang Joko sedang menempuh studi Magister di Universitas Indonesia pada bidang Keselamatan & Kesehatan Kerja.

2 Comments

Tinggalkan Komentar di sini